Rendah Hatilah dalam Beragama

Ketika melihat orang berpakaian yang tidak sesuai dengan norma agama, ketika melihat orang tidak puasa di bulan Ramadhan, saya cepat berdoa kepada Tuhan ” Wahai Tuhan yang membolak balikan hati manusia, tetapkanlah hatiku pada Mu.”. Itu cara terbaik saya lakukan daripada saya menilai dan menghakimi orang itu sesuai standar agama yg saya yakini.

Menuurut standar norma Indonesia mungkin wanita memakai baju kurang bahan atau celana pendek jalan di mall itu tidak ada etika. Tapi kalau saya tegur maka itu pasti disebut saya tidak punya etiket. Mengapa ? Karena saya melanggar privasi orang.

Hidup ini tidak ada yang sempurna dan tidak mungkin bisa ideal selagi setan belum dimusnahkan, dan selagi nafsu dan akal bersanding manis dalam diri kita. Sesuatu yang tidak patut bagi kita mungkin menjadi tradisi yang permissive bagi sebagian orang. Makanya hak asasi itu menjadi penting.

Pemaksaan kehendak melalui idelisme agama agar ada UU pornographi dan pornokasi menjadi produk legislasi, itu justru paradox bagi keadilan. Karena sebetulnya dalam KUHAP sudah diatur perbuatan amoral , tapi dengan adanya UU pornographi dan pornoaksi, definisi porno menjadi luas seluas idealisme agama.

UU pornographi itu memang memuaskan kita sebagai pengawal moral dan sekaligus pengawal firman Allah. Namun bisakah kita konsisten untuk menjadi seperti amanah UU itu? Dalam Hidup ini kita kadang terjebak dengan idealisme dan semangat utopia tapi sayang sekali hidup tidak ada yang utopia.

Hidup selalu berada disisi baik dan buruk, tanpa berdaya untuk lari dari situasi itu kecuali berusaha untuk rendah hati bahwa kita bisa kapanpun jahat atau amoral tanpa pertolongan Tuhan. Makanya yang bisa sombong bertauhid itu hanya Iblis. Yang merasa lebih baik itu hanya sifat iblis. Yang merasa paling sempurna itu ya sifat
Iblis. Tapi karana sifat itu juga iblis jadi laknat Allah.

Jadi rendah hatilah. Kalau ada didepan mata yang amoral atau perbuatan maksiat, lebih dululah berdoa minta pertolongan Allah, agar terhindar dari itu. Itu lebih bijak daripada tunjuk hidung orang kafir atau munafik atau cabul.

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Akhlak Mulia