Belajar dari Nilai-nilai Pejuang

Kehebatan Soekarno karena dia pejuang terpelajar dan punya standar moral dan intelektual tinggi. Walau dia tahu Belanda itu pemerintahan kolonial namun eksistensi Belanda diakui secara hukum ketika itu. Itu sebabnya Soekarno tidak pernah lari dari proses hukum yang dituduhkan kepadanya.

Proses peradilan dihadapinya dengan berani. Walau kalah di pengadilan tapi secara moral dia semakin mendapat tempat di hati rakyat. Paska indonesia di proklamirkan, Yogya- Ibu kota RI berhasil direbut oleh tentara Belanda, Soekarno tidak lari. Dia memilih untuk ditangkap oleh Belanda. Dari usia belia sampai usia 40 tahun, hidupnya di habiskan di tempat pembuangan dan pengasingan, yang diantaranya di Ende, Flores , Bengkulu, Brastagi, Bangka.

Bahkan ketika PNI yang didirikan Soekarno dibubarkan oleh Belanda, Soekarno berani menggugat lewat pengadilan Pemerintah kolonial Belanda. Yang sampai sekarang naskah pembelaan Soekarno masih bisa kita baca dalam buku “di bawah bendera revolusi”. Kalau sampai Soekarno terpilih sebagai presiden dan mampu menjadi magnit perjuangan rakyat semesta mengusir Belanda, itu karena dia memang punya nilai sebagai pejuang.

Di era kemerdekaan- era Orba, kita bisa lihat bagaimana PDIP di zolimi oleh Orba. Banyak kader PDIP di tangkap. Ada juga yang mati dalam aksi demontrasi yang direkayasa penguasa. Namun Megawati tidak pernah lari. Dia tetap percaya dengan proses hukum Indonesia. Kezoliman itu dihadapi dengan perang di pengadilan. Lebih 10 DPD PDIP diseluruh Indonesia mengajukan gugatan ke Pengadilan atas keputusan rezim Soeharto yang dianggap tidak adil.

Walau tetap kalah juga karana hukum berpihak kepada penguasa namun keberadaan PDIP seperti oase bagi rakyat yang menginginkan kebebasan berdemokrasi. Jadi PDIP tidak kalah tapi menang secara moral. Abu Bakar Baashir, juga memilih menghadapi hukum negara walau dia sendiri jelas berbeda paham politik dengan idiologi negara. Dia tidak lari dan berani menerima resiko penjara. Tapi perlawanannya memberikan nilai tersendiri. Soeharto sampai akhir hayatnya tidak pernah lari keluar negeri dan siap diadili di dalam negeri.

Mereka tersebut diatas hebat karena niatnya baik. Mereka tidak merasa hina di penjara. Karena mereka tidak melakukan korupsi atau perbuatan amoral. Mereka hanya berbeda paham dengan penguasa. Mereka sadar bahwa hampir tidak mungkn bisa menang melawan pemerintah. Itu adalah perjuangan sia sia.

Namun menghadapi kekuasaan itu punya nial sendiri bagi mereka, apalagi menghadapi sistem yang korup. Setiap pejuang merasa terhormat bila sampai keberadaannya membuat penguasa geram dan marah. Apalagi sampai dipenjara. itu artinya perjuangannya menimbullkan rasa takut, dan yakin bahwa kebenaran yang diperjuangkannya mampu menggetarkan dinding kekuasaan yang dikawal dengan bedil dan serdadu, bahkan idiologi sekalipun. Lebih daripada itu mereka memang pemberani.

Rasa takut mereka hanya kepada Tuhan, itupun kalau niat dan perbuatannya bertentangan dengan jalan Tuhan. Selagi mereka yakin dengan niat baiknya maka Tuhan akan selalu bersamanya. Tentu yang tahu niat baik mereka hanya Tuhan

Tapi tidak semua pejuang yang punya standar moral dan intelektual tinggi. Kita lihat bagaimana Aidit melarikan diri keluar negeri setelah meletus pemberontakan PKI di Madiun 1948. Bagaimana Tan Malaka melarikan diri keluar negeri setelah di curigai sebagai pejuang komunis bawah tanah oleh Belanda.

Baik Aidit maupun Tan Malaka, baru kembali lagi ke Tanah air setelah situasi politik konduksif untuk leluasa memperjuangkan idealismenya. Apakah mereka sukses dengan idealismenya ? Tidak. Jadi kalau ada pejuang melarikan diri dari tuntutan hukum , mereka bukan pejuang tapi petualang dan pecundang. Sejarah mengajarkan soal itu…

Mari Berkomentar...


Categories: Catatan Kecil