Kaya & Miskin Tidak Ditentukan Suku, Agama dan Ras!

Ketika saya usia muda tahun 80an, hampir tidak ada, bahkan kalau ada sedikit sekali orang tua yang menyuruh anak kalau tamat kuliah jadi wiraswasta. Pilihan wiraswasta adalah bukan pilihan tapi engga ada pilihan lagi karena jalan hidup jadi PNS atau pegawai perusahaan asing tidak terbuka sama sekali. Saya bisa merasakan pandangan orang terhadap wiraswasta itu rendah.

Setiap pulang kampung kerumah orang tua, saya terpaksa menyembunyikan kehidupan saya sebagai wiraswasta. Apalagi ketika usia muda saya masih dalam keadaan merintis usaha yang memang tidak sebaik teman teman seangkatan saya yang bekerja sebagai PNS atau bekerja di perusahaan Asing. Bagi orang kebanyakan ketika itu, sudah terbentuk stigma bahwa berwiraswasta adalah pekerjaan orang gagal. Apalagi memulai dari modal nol.

Makanya jangan kaget bila lingkungan pergaulan saya sebagian besar adalah mereka keturunan tionghoa. Hanya bedanya kalau mereka jadi pengusaha sudah jalan hidup yang dipaksa harus dilewati karena untuk jadi PNS atau bekerja di BUMN peluangnya kecil sekali. Sementara saya, mungkin jadi pengusaha bukan jalan hidup yang direncanakan dengan baik tapi terjadi begitu saja. Proses kehidupan pengusaha memang sangat tidak mudah. Setiap hari kita berhadapan dengan ketidak pastian.

Uang begitu sangat berharganya. Kita dipaksa harus disiplin mengendalikan cash flow agar pengeluaran selalu dibawah pendapatan. Saya tidak punya asuransi kesehatan, asuransi pendidikan, tidak punya cicilan kendaraan, tabungan liburan. Singkatnya segala konsumsi yang harus ada pengeluaran tetap, saya akan hindari dengan disiplin. Setiap pendapatan adalah tambahan modal untuk meningkatkan nilai usaha.

Kadang setelah lelah mengembangkan usaha dengan disiplin pengeluaran , bisnis jatuh begitu saja. Apa yang dikumpulkan habis karena proses ingin terus berkembang. Dalam situasi ini tidak bisa diratapi atau sesal yang menimbulkan trauma. Tidak. Kita dipaksa berpikir positip bahwa kegagalan itu mendewasakan kita. Setelah melalui perjuangan berat dalam kajatuhan itu, kita berhasil bangkit lagi. Ada rasa syukur namun tidak membuat kita sombong.

Kita sadar bahwa apapun yang kita raih bisa saja habis. Pengalaman mengajarkan soal itu. HIdup sebagai pengusaha adalah hidup menghadang rasiko. Namun resiko bukan untuk ditakuti , bukan untuk di hindari, tapi di lewati dengan berani. Dari itu semua kita belajar arti mencintai dan rendah hati selalu.

Setelah melewati usia 50 tahun, teman teman saya semasa muda, sekarang mereka sudah jadi pengusaha hebat. Mereka umumnya keturunan tionghoa. Hidup mereka mapan dan bergaul dengan segala kalangan tanpa ada inferior complex.

Padahal banyak diantara mereka tidak tamat perguruan tinggi. Kalau kini mayoritas pengusaha hebat itu dikuasai oleh etnis keturunan itu bukan karena hadiah atau distribusi modal gratis dari pemerintah. Bukan. Itu didapat melalui kerja keras dan cerdas dengan menghadang resiko. Hidup yang tidak aman dan kadang harus menyembunyikan lapar.

Kadang harus bersabar menghadapi pejabat dan mitra bisnis yang doyan di manjakan dengan ongkos yang kita tanggung. Kadang harus melunakan lidah dan senyum kepada banker atau investor agar mau baca proposal kita. Disetiap waktu, setiap kesempatan, kita harus jadi bandar menjamu relasi agar kita bisa merebut hati mereka. Kita harus mengutamakan karyawan daripada diri rikita sendiri. Lelah..

Nah, kalau kini mayoritas muslim miskin, itu bukan karena distribusi modal dari pemerintah tidak adil. Bukan karena Tuhan tidak adil. Kaya miskin tidak ada kaitannya dengan suku, agama atau etnis. Tapi karena mindset atau sikap mental. Budaya lebih baik jadi pekerja daripada jadi pengusaha, ingin hidup gampangan dan aman, itulah yang membuat gap kaya miskin semakin lebar.

Padahal Islam menempatkan seorang pengusaha itu dalam posisi terhormat dalam membangun peradaban. Bahkan Rasul terlahir dari keluarga pengusaha dan berkembang sebagai pengusaha hebat. Tapi teladan hebat dari Rasul itu itidak jadi inspirasi, yang jadi inspirasi malah jenggot dan pakaiannya..

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Catatan Kecil