Woman at Work: Decide and Manage

Ada teman saya, perempuan, yang lulus S2 di luar negeri. Ia ingin bekerja, tapi ia membuat syarat untuk dirinya, yaitu dia harus bekerja di rumah. Tentu saja dengan syarat itu peluangnya untuk dapat kerja jadi lebih kecil. Tapi bagi orang yang punya kemampuan, peluang sekecil apapun bisa ia ubah menjadi kenyataan. Teman saya tadi berhasil. Ia dapat pekerjaan sebagai social media analyst pada perusahaan Singapura. Ia tidak perlu berkantor di luar rumah.

Ada banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah, dan menghasilkan uang. Terlebih, dunia saat ini memungkinkan kita melakukan pekerjaan di sini, untuk berbagai perusahaan di belahan dunia lain. Saya sendiri menerima berbagai pekerjaan riset yang saya kerjakan di rumah dengan internet dan telepon, customer saya di Jepang.

Ada banyak orang berjualan secara online, yang bisa dikerjakan dari rumah. Penulis, penggambar, perancang, dan sebagainya, adalah pekerjaan-pekerjaan yang bisa dikerjakan dari rumah.

Kenapa harus dari rumah? Apakah perempuan tidak boleh bekerja di luar? Bukan begitu maksud saya. Yang hendak saya sampaikan adalah, kita sering membuat batasan-batasan yang menghambat. Atau, kita menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk menyerah.

Banyak perempuan yang ingin (tetap) bekerja, tapi tidak bisa meninggalkan rumah. Akhirnya ia memutuskan untuk berhenti bekerja. Padahal, bekerja tidak harus di luar rumah. Ada banyak peluang yang bisa diambil.

Tapi, pekerjaan yang tersedia tidak cocok dengan (keahlian) saya. Apa masalahnya? Kan kita bisa mencocokkan diri, atau membangun keahlian baru. Inilah poin pentingnya: beradaptasi. Kita lakukan adaptasi soal ekspektasi maupun keahlian kita. Tembok psikologis yang besar di sini adalah, kita sering menginginkan sesuatu dan berharap semesta menyediakan semuanya untuk kita. Itu salah!

Tapi, bagaimana dengan perempuan yang memilih untuk bekerja di luar? Silakan. Tapi pilihan itu tidak membuat ia boleh lepas tanggung jawab terhadap pngelolaan rumah tangga, khususnya pengasuhan dan pendidikan anak.

Jadi bagaimana? Prinsipnya, decide and manage. Anda pilih format kerja Anda, lalu atur bagaimana Anda mengelolanya. Ingat, bekerja itu prioritas, mengurus rumah tangga juga prioritas. Manajemen adalah soal bagaimana mengelola berbagai prioritas. Bukan manejer namanya kalau ia hanya bisa menangani satu prioritas.

Rumusan ini sebenarnya tidak hanya berlaku bagi perempuan, tapi juga bagi laki-laki. Kita semua sama. Yang membedakan kita hanya alat kelamin di selangkangan. Masak gara-gara itu peran dan tanggung jawab kita jadi sama sekali berbeda. Tidak, kan?

catatan Kang Hasan

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Catatan Kecil