Kisah Tentang Kekuatan Rendah Hati dan Akhlak

Dia merantau ke Jakarta dalam usia sangat muda. Usianya ketika itu 15 tahun. Sekolah hanya batas SD kelas 3. Tidak bisa membaca dan menulis. Namun dia bisa berhitung secara sederhana. Setelah di Jakarta, hanya beberapa bulan dia sudah bisa membaca dan menulis ala kadarnya.

Itu berkat bantuan dari teman temannya sesama anak jalanan, yang kadang ada saja sukarelawan yang memberikan pelajaran membaca dan menulis. Walau anak jalanan namun dia tidak pernah menadahkan tangan untuk makan. Dia bekerja keras sebagai pemulung. Kadang dia jualan kantong plastik dengan menjajakannya di depan masjid Istiqlal untuk orang membungkus sendal. Kadang juga menjual tas belanja plastik ukuran besar di depan pasar tanah abang. Singkatnya dia selalu punya jalan untuk mendapatkan nafkah..

Dalam usia 17 tahun dia sudah menikah dengan seorang wanita yang dia kenal di jalanan. Usia wanita itu 25 tahun. Kerja kerasnya mampu menyewa rumah walau rumah sepetak di pinggiran kali ciliwung. Namun perkawinan itu hanya berlangsung 2 tahun. Wanita itu meniggalkannya karena lebih merasa nyaman tinggal di rumah mucikari. Dia kembali dengan kesendiriannya. Setahun setelah bercerai dengan istrinya, dia berkenalan lagi dengan seorang wanita yang bekerja sebagai pelayan toko grosir di kota. Wanita kampung yang usianya tidak jauh beda dengan dia. Bersama istri dia menjalani hidup di kota.

Ketika tahun 1998 terjadi chaos, ruko tempat wanita itu bekerja di bakar orang dan di jarah massa. Karena tempat tinggalnya tidak jauh dari Ruko itu. Dia dan istri segera berlari ke ruko itu. Pemilk kios itu berteriak teriak karena dokumen penting tersimpan dalam brangkas yang ada di lantai dua rukok.

Entah mengapa dengan keberanian luar biasa, dia dan istrinya masuk kedalam gedung ruko yang sedang terbakar. Selang beberapa saat mereka berhasi menyelamatkan brankas yang berisi dokumen penting itu. Di serahkan kepada bossnya. Untunglah semua dokumen lengkap tanpa ada yang terbakar atau rusak.

Setelah peristiwa Chaos itu dia dan istrinya berniat hijrah ke Sumatera karena kehidupan jakarta paska kerusuhan Mey 1998 semakin sulit. Mendengar kabar ada banyak peluang untuk bertahan hidup di kawasan perkebunan. Harga komoditas pertanian lagi bagus karena kurs rupiah yang jatuh.

Tapi dari mana modal untuk memulai itu ? Dalam doa dan rintihan kepada Tuhan, suatu hari mantan boss istrinya datang kerumah. Mantan boss memberi uang Rp. 1 miliar rupiah karena rasa terimakasih atas keberanian mereka menyelamatkan dokumen dari amukan api.

Dari uang Rp. 1 miliar itu, mereka gunakan modal untuk memulai hidup baru di sumatera. Dari uang itu mereka membeli lahan PIR yang di jual oleh pemiliknya. Mereka bekerja keras mengelola kebun sawit dengan sungguh sungguh.

Berlalunya waktu dari awalnya 40 hektar akhirnya bertambah sampai ribuan hektar. Karena selalu ada saja setiap tahun orang hendak melepas kebun sawitnya. Tahun 2004 dia dan bersama istri berangkat ke tanah suci. Pada waktu itu kedua orang tuanya dan juga mertuanya dia bawa serta ke baitullah. Tahun 2010, dia bersama mitranya berhasil menggandeng Koperasi membangun pabrik PKS. Kini dia sudah jadi pengusaha sukses. Dengan memberikan kesempatan kerja bagi banyak orang.

Anakku…bukan pendidikan tinggi, bukan banyak zikir, bukan hebatnya ilmu agama yang membuat kamu berguna bagi orang lain tapi akhlakmu lah yang memudahkan rezekimu yang sehingga keberadaanmu menjadi berkah bagi orang lain.

Dengan akhlak yang baik, tidak membuat uang memanjakanmu tapi itu adalah amanah yang harus kamu perjuangkan dengan susah payah agar lebih besar manfaatnya bagi orang lain. Kamu tetap rendah hati dan selalu memuliakan kedua orang tua, mengutamakan kebaikan bagi orang lain, menjaga amanah, dan berkorban untuk itu.

Hanya karena itu Tuhan di atas sana bangga akan keberadaan kamu dan kedua orang tua mu bisa bersyukur betapa kamu memang pantas untuk di lahirkan..

Pahamkan sayang?

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Akhlak Mulia