Belajar Membuat Keputusan

Kalau saya buat keputusan ini, dan ternyata kelak salah, bagaimana jadinya hidup saya? Mungkin saya akan terus menderita. Itu salah satu bentuk ketakutan yang menghantui orang saat hendak membuat keputusan.

Banyak orang mengira, satu keputusan adalah satu momen. Setelah itu tidak ada momen lagi. Maka, ia harus menjalani akibat keputusan yang ia buat tadi selamanya. Membuat keputusan dianggap seperti menembakkan sebuah panah ke suatu arah, kemudian sepanjang masa seseorang harus hidup dengan arah itu.

Celakanya, kita tidak tahu apa yang ada di depan sana. Kita hanya menduga-duga. Maka membuat keputusan seperti menghadapi sebuah lorong gelap, orang takut melangkahkan kaki untuk berjalan ke depan.

Baca juga:

Perempuan dengan Tujuan, Dapat Mengatasi Semua Rintangan!

Padahal sebenarnya tidak demikian. Hidup itu seperti menyetir mobil. Setiap saat kita membuat keputusan. Satu keputusan pada suatu saat, membawa kita kepada saat lain, yang menuntut kita untuk membuat keputusan lagi. Keputusan itu kemudian membawa kita pada saat untuk menentukan keputusan berikutnya. Begitu seterusnya.

Jadi, bagaimana hidup kita setelah sebuah keputusan kita buat, tidak tergantung pada apa pilihan yang kita ambil dalam membuat keputusan. Ia tergantung pada ribuan keputusan yang kita buat dalam perjalanan selanjutnya.

Maka, sebuah keputusan yang kita anggap besar, sebenarnya hanyalah sebuah keputusan, di antara jutaan keputusan yang kita ambil selama hidup. Keputusan besar tak istimewa. Ketakutan kita saja yang membuatnya istimewa.

Sebaliknya, tidak mengambil keputusan pun sebenarnya sebuah keputusan juga. Kita dituntut pula untuk membuat puluhan keputusan lagi sebagai konsekuensinya. Jadi, sebenarnya sama saja.

Catatan Kang Hasan

gambar diagram oleh Kang Hasan

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Catatan Kecil