Bagaimana Menyikapi Anak yg Berpacaran?

Apa yang akan Anda lakukan kalau anak Anda berpacaran? Banyak orang tua yang sejak awal sudah menetapkan aturan, melarang anaknya pacaran. Pokoknya tidak boleh! Ada anak yang patuh, tapi ada yang tidak. Ia pacaran diam-diam. Itu berbahaya. Bahaya pertama, anak jadi tidak lagi terbuka pada orang tua. Itu awal dari putusnya komunikasi dengan anak. Bahaya kedua, ia bisa saja melakukan hal-hal yang tak patut, karena semua aktivitas pacaran dilakukan secara tersembunyi.

Bagaimana Menyikapi Anak yg Berpacaran

Lalu, bagaimana?

Cobalah untuk mengingat kembali masa remaja kita. Apa yang bisa kita ingat? Ketertarikan pada lawan jenis pada masa remaja sebenarnya jauh dari soal seksual, dalam pengertian intercourse. Anak-anak remaja sebenarnya hanya memerlukan perhatian dari orang yang dia sukai. Mereka melakukan aktivitas bersama, having fun. Apakah kita hendak melarang anak kita beraktivitas bersama dengan orang yang ia sukai?

Khawatir? Ya sudah, yuk kita lakukan aktivitas bersama. Mau nonton, yuk nonton bareng. Jalan-jalan, yuk pergi bareng. Kumpul-kumpul, yuk rame-rame, sini Ayah/Ibu bikinin masakan. Akan sangat bagus kalau kita bisa mengenal pula anak yang disukai anak kita, termasuk orang tuanya. Terbuka, dan terkontrol.

Tapi anak-anak kan tetap menyembunyikan sesuatu. Biarlah, mereka juga butuh privacy. Tapi ingat, dia anak kita. Kita sudah bekali dengan fondasi nilai, maka neri dia kepercayaan untuk menjaga nilai itu. Terus jaga komunikasi agar anak tidak melenceng dari fondasi nilai itu.

Apakah tidak akan mengganggu prestasi belajar? Prestasi itu tergantung pada visi dan motivasi anak. Kalau ia punya itu, maka ia akan berprestasi. Pacaran bahkan bisa membuat ia termotivasi lagi. Yang perlu kita lakukan adalah mengawal anak untuk tetap menjaga visi dan motivasinya secara disiplin.

Bagaimana kalau ia patah hati? Itu adalah latihan mengendalikan diri dan perasaan. Itu kesempatan bagus untuk mematangkan diri. Makanya, kita perlu menjaga keterbukaan, sehingga pada saat anak patah hati pun kita bisa mendampinginya.

catatan Kang Hasan

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Parenting