Small Habits, Big Differences

Sepulang dari kebun, Ayah biasanya langsung mandi. Setelah itu dia duduk santai, atau mengaji. Emak tidak demikian. Ia pergi ke samping atau rumah kami, di mana ia menanam berbagai jenis tumbuhan. Cabe, terong, bayam, kunyit, kacang panjang. Emak pergi sebentar merawat kebun sayur kecil miliknya itu.

Kebun sayur kecil itu adalah karya sambilan Emak. Ia selalu pergi ke situ untuk mengurusnya, selepas bekerja di kebun kelapa. Ia tanam bibit, beri pupuk kandang, dan ia bersihkan dari rerumputan. Hasilnya, sayur-sayur dari kebun itu selalu tersedia menjadi hidangan di meja makan kami.

Di kiri kanan rumah kami adalah rumah kakak dan adik Emak. Menjelang waktu makan biasanya datang kemenakan Emak, minta cabe. Dia berteriak dari luar rumah,”Mak Andak, minta cabe.” Dengan atau tanpa jawaban iya dari Emak, dia langsung mengambil cabe, untuk dibuat sambal di rumahnya, atas suruhan ayahnya.

Emak sering berungut soal itu. “Bukan tak ikhlas memberi orang. Tapi tak senang Emak tengok orang miskin pikiran,” kata Emak. Ia berharap adiknya meniru apa yang ia lakukan. “Berkebun sayur ini bukan kerja besar, sambilan saja dah cukup.” Tapi tak banyak orang melakukannya.

Orang-orang di sekitar rumah kami sering membeli sayur dari petani-petani Jawa dari kampung sebelah. Mereka setiap hari menjajakan sayur melalui jalan kampung, singgah dari rumah ke rumah. Kami tak pernah membeli sayur dari mereka. Emak hanya menyuruh mereka singgah kalau sesekali ingin makan tempe.

Orang-orang Jawa itu dulu datang ke kampung kami, dari kampung asal mereka di Kebumen. Mereka membuka lahan seperti Ayah dan Emak. Berbeda dengan kami orang Melayu, selain menanam padi dan memangun kebun kelapa, mereka juga menanam sayur. Sayur itu mereka jual di kampung kami, juga ke Batu Ampar, kota kecamatan. Hasilnya, orang-orang di kampung Jawa itu kaya-kaya.

Ironi memang. Orang-orang di kampung kami, yang sebenarnya lebih miskin, membeli sayur-sayur dari orang-orang di kampung Jawa, membuat mereka kaya.

Tak hanya soal sayur. Kami memelihara ayam dan kambing. Sebenarnya tak tepat benar disebut memelihara. Kami cuma melepas ayam-ayam di pekarangan. Entah kapan dulu mulainya. Ayam-ayam itu bebas mengais makanan di pekarangan. Sesekali mereka dapat jatah makanan dari sampah rumah, seperti nasi basi. Ayam-ayam itu beranak pinak tanpa perlu perawatan. Malam hari mereka tidur di atas dahan-dahan kopi di sekitar rumah.

Emak hanya perlu membuatkan sarang di belakang rumah, tempat ayam betina bertelur. Kalau tidak dibuatkan, mereka akan bertelur di kebun. Telurnya tak bisa diambil, dan sering dicuri pemangsa.

Kambing juga begitu. Kami hanya perlu membuat kandang di belakang rumah. Kambing mencari makan sendiri di kebun. Mereka keluar kandang pagi hari dan pulang saat petang.

Ayam-ayam kami jarang dijual. Telur fan daging ayam untuk lauk saja. Bagi orang kampung, makan daging ayam itu mewah, hanya bisa dinikmati saat kenduri. Di rumah kami tidak. Itu makanan biasa. Demikian pula, kalau mau kenduri, kami tak perlu membeli.

Kambing biasanya untuk akikah. Sesekali kami jual kambing kalau ada yang memerlukan. Atau kalau kami perlu uang tambahan untuk urusan sekolah.

Seperti ditunjukkan Emak, banyak hal kecil yang bisa kita lakukan, kelihatannya sepele. Tapi hal kecil yang dilakukan secara rutin, menjadi kebiasaan, membuat perbedaan besar. Ada orang yang, misalnya, menyisihkan sejumlah uang, diinvestasikan di pasar saham. Bertahun-tahun melakukan itu, hasilnya jadi besar. Ada yang membuat kue, dimasak sebelum ia berangkat ke kantor, semacam cup cake, dijual di kantor. Itu menjadi cikal-bakal bisnis kue yang bahkan membuat orang itu meninggalkan pekerjaan kantoran.

Saya membiasakan diri menulis dalam perjalanan ke kantor. Hasilnya, sebuah buku berjudul “Melawan Miskin Pikiran”. Nah, apa hal kecil yang Anda biasakan?

catatan Kang Hasan

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Catatan Kecil