Melepaskan Beban Sejarah Agama

Agama harus dipisahkan antara kebenaran dan kemanusiaannya. Ajaran agama manapun tumbuh melalui proses manusia, yaitu pertarungan kepentingan. Baik kepentingan internal agama tersebut, maupun pertarungannya dengan kelompok lain.

Islam, misalnya, di masa awal tumbuh dalam tekanan orang-orang Quraisy Mekah. Maka ajaran Islam penuh dengan anjuran untuk berperang. Dakwah Islam hampir identik dengan jihad. Yang tidak ikut berjihad, dianggap munafik yang tak jelas keberpihakannya. Dalam kasus tertentu, munafik ini adalah musuh.

Di masa selanjutnya, sejarah Islam juga diwarnai dengan perebutan kekuasaan dalam tubuh umat Islam sendiri. Pembunuhan dan perang menjadi hal biasa. Maka, tidak sedikit orang membuat dalil-dalil. Atau, dalil-dalil disampaikan dalam frame kebutuhan politik. Muatannya (matan) benar, tapi framenya adalah politik.

Hadirnya mazhab Sunni-Syiah adalah contoh dari pertentangan itu. Kini, kedua mazhab itu tampak seolah merupakan pertentangan mazhab akidah. Padahal awalnya adalah pertentangan politik belaka. Ini mendemonstrasikan bahwa kepentingan politik bahkan mempengaruhi muatan ajaran agama sampai ke sisi teologis.

Pada saat yang sama, umat Islam melakukan berbagai penaklukan. Mereka berbenturan dengan kekuatan lain, terutama Kristen. Bagian ini mempengaruhi psikologi umat ketika mereka kini membaca ayat-ayat Quran yang membahas soal kekristenan.

Ringkasnya, ajaran agama yang ada saat ini adalah produk dari berbagai proses sejarah itu. Bagi saya, kita harus mampu membebaskan diri dari itu. Kita tidak perlu terlibat atau mewarisi pertikaian Mekah-Madinah. Tidak pula pertikaian Madinah dengan suku-suku Yahudi di sekitarnya. Juga tidak mewairisi permusuhan Arab-Eropa. Juga tidak mewarisi konflik Ali-Muawiyah.

Yang harus kita cari dan warisi adalah ajaran Islam, pesannya yang paling dasar. Apa itu? Salaam, damai. Adil. Rahmat, kasih sayang, bagi seluruh alam. Sisi-sisi itu yang mesti ditonjolkan. Berhentilah menista Islam dengan menungganginya untuk kepentingan duniawi manusia.

catatan Kang Hasan

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Spiritualitas