Kesabaran dapat melunakkan Hati yg paling Keras Sekalipun

Teman saya cerita dengan raut sedih. Apa pasal ? Dia pernah marah besar dengan tukang yang sedang membangun rumahnya. Saat itu dia marah karena design kamar mandi keramiknya tidak seperti dia mau. Tukang itu dengan lembut menjelaskan bahwa perubahan itu karena permintaan istrinya.

Setelah di konfirmasi ke istrinya dengan nada marah, istrinya jawab bahwa tukang itu bohong. Kemarahan semakin menjadi. “Saya sempat katakan, kamu selalu sholat tapi kamu engga malu dengan Tuhan karena telah berbohong. Apa benar kamu sudah beragama? Kamu orang beriman tapi munafik. ” Tukang itu diam saja. Saya minta di bongkar keramik itu dan biayanya potong upahnya. Tukang itu hanya mengangguk. Tanpa suara. “

“Tapi karena peristiwa itu saya kadang menangis” kata teman melanjutkan. ” Mengapa ?
” Saya pernah bawa wanita kerumah yang sedang di bangun. Tukang itu tahu bahwa yang saya bawa itu bukan istri saya. Namun suatu saat, saya bersama istri datang melihat rumah yng sedang di bangun. Istri saya sempat tanya apakah saya pernah bawa wanita kerumah. Tukang itu menjawab tidak pernah. Wajahnya nampak tenang. Istri saya puas. Cobalah andaikan tukang itu berkata jujur mungkin entah apa yang terjadi. Saya terpesona dengan sikap Tukang itu. Walau saya kasar namun dia tetap menjaga kehormatan saya depan istri.
” Dan…”
” apa?
“Ternyata perubahan design kamar mandi itu memang keinginan istri saya. Saya dapat informasi dari toko material bahwa istri saya yang meminta warna kramik diubah. Tapi istri saya tidak akui ketika saya marah. Dan tukang itu menerima dijadikan korban dari kesalahan kami.”

Suatu saat saya tanya mengapa dia begitu baik padahal saya telah menzoliminya. Kata teman melanjutkan ceritanya.
” Kamu tahu apa jawaban tukang itu?
” Apa ?
” Agama mendidik kita bersabar atas sikap orang lain dan memaafkan orang yang menzolimi kita. Karana yakin bahwa Tuhan berserta orang sabar. Memang tidak mudah menerapkan itu tapi itulah ujian keimanan. Tidak semudah menyebut diri beriman dan berzikir siang malam. Tidak semudah sholat lima waktu.”

Setelah bangunan rumah saya selesai, teman saya melanjutkan lagi cerita,” Saya memberi hadiah pergi umroh kepada tukang itu ”
” Mengapa ?
” Itulah cara saya meminta maaf. Tukang itu bukan hanya sabar tapi dia bisa menyimpan aib saya dengan hebat. Walau saya telah menzoliminya. Saya terpesona dengan karakternya. Dan sejak saat itu saya ubah kelakuan saya. Lebih banyak sabar dan tentu setia. ”

Ya karena kesabaran tukang itu, dia yang keras, arogan, luluh hati nya dan berubah karena waktu. Andaikan tukang itu membalas kezoliman dengan kezoliman tentu dua duanya terjerumus kedalam lobang kenistaan. Orang sabar itu bersama Tuhan dan orang yang bersama Tuhan pasti menjadi pemenang sejati.

Sabar adalah puncak dari akhlak dan sesungguhnya agama itu adalah akhlak itu sendiri. Buruk akhlak maka sirna agama dalam diri. Dengan akhlak yang baik , kita bisa mengubah orang lain menjadi lebih baik.

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Akhlak Mulia