Bahagia itu Gak Enak Loh!

Tidak banyak orang yang ingin bangun, sedikit sekali manusia yang ingin bahagia.

Pernyataan ini serius, bukan permainan kata. Sebagian besar dari kita hanya ingin lukanya sembuh, uangnya kembali, reputasinya balik, dan semua keinginannya terwujud. Kebahagiaan bukan kesenangan, bukanlah keinginan yang terwujud melainkan sebuah kesadaran.

Menjadi bahagia adalah bangun dari ilusi yang selama ini kita anggap kenyamanan. Terbangun dari mimpi indah tidak enak, makanya sebagian besar dari kita tidak menginginkannya. Ibarat orang yang telah kecanduan, membayangkan hidup tanpa rokok, kopi, alkohol adalah hal yang mengerikan.

Begitu juga sebagian besar dari kita, sejak kecil sudah terlilit oleh candu yang bernama penerimaan, persetujuan, penghargaan, pujian, perhatian dan puluhan lainnya, kita bahkan tidak menyadari bahwa semua itu membuat kita tergantung.

Secara fisik kita memang saling tergantung satu dengan lainnya, namun tergantung secara emosi dengan yang lain membuat kita menderita. Lihatlah kita menjadi muram ketika pasangan tidak memperhatikan, menjadi sedih tatkala tidak ada yang memuji atau kita membungkam suara hati kita agar mendapat penerimaan atau persetujuan dari orang atau kelompok yang ada.

Dulu saya berpikir kebahagiaan adalah kebersamaan, kebahagiaan adalah percaya akan janji-janji keselamatan dan kehidupan kekal , kebahagiaan adalah ketika kita membantu atau melayani orang lain. Ternyata semua itu hanya kesenangan yang gampang menguap.

Kebahagiaan adalah hal yang paling sederhana, karena sederhananya tidak banyak orang percaya. Kita tidak perlu mengejar untuk mencapainya, semua sudah ada di dalam, yang kita perlukan adalah melepas ego yang selama ini kita kejar dan genggam.

Melepaskan ego adalah hal yang mengerikan, seperti seseorang jendral aktif yang melepas bintangnya.
Yang sebelumnya kita belajar berbagai hal agar dianggap pintar, hebat , sukses sekarang kita di minta untuk melepas segala ilusi yang telah kita genggam dengan susah payah dan menjadi orang biasa, menjadi tidak siapa-siapa.

Melepas kemelekatan tidaklah enak, melekat pada sebuah hal adalah bagaikan lem kuat yang menempel di kulit tubuh, ada rasa sakit yang hadir tatkala kita mencoba untuk mendongkelnya.

Menyadari bahwa hubungan yang selama ini kita sebut cinta pada orang-orang terdekat adalah kemelekatan, mengetahui bahwa kebaikan yang selama ini kita perbuat penuh pamrih, dan sadar bahwa yang kita yakini adalah dogma dan konsep adalah menyakitkan.

Kebenaran terasa pahit karena kita sudah terbiasa dengan permen manis yang menyenangkan, kita telah terbiasa dengan pesta-pesta yang memabukkan. Tidak heran tidak banyak orang yang berani mengambil jalan tersebut, tidak banyak yang mau datang di stand kebenaran.

‘Sometimes people don’t want to hear the truth because they don’t want their illusions destroyed.’ – Friedrich Nietzsche

catatan Gobind Vashdev

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Catatan Kecil