Tidak ada yg namanya Ibu Paruh Waktu!

Dulu ada seorang kawan saya yang menyebut dirinya ibu paruh waktu. Kok gitu? “Saya kan kerja di luar rumah, jadi tidak bisa 100% mengurus anak,” katanya.

“Jadi, saat kamu di luar rumah, anakmu tidak terurus?”

“Nggak gitu sih. Ada yang mengurusnya di rumah.”

“Yang mengaturnya siapa? Kamu kan?”

“Iya.”

“Kenapa kamu atur agar ada yang mengurus anakmu saat kamu pergi kerja?”

“Ya iyalah, kan saya ibunya.”

Tepat sekali.

Ibu manapun pasti pernah meninggalkan anaknya, untuk suatu urusan, baik yang rutin, maupun insidental. Itu tidak membuat ia lepas dari “jabatan” sebagai seorang ibu. Demikian pula dengan perempuan yang bekerja di luar rumah. Mereka menyandang “jabatan” itu secara full time, bukan paruh waktu.

Apa artinya? Ada dua sisi. Pertama, Anda tidak perlu berkecil hati, seolah Anda sedang meninggalkan tanggung jawab sebagai seorang ibu. Tidak. Anda berbagi tugas dengan orang yang Anda beri kepercayaan untuk mengasuh anak. Tanggung jawab penuh tetap ada di tangan Anda. Anda tetap seorang ibu.

Arti lainnya adalah, jangan pernah merasa Anda lepas dari tanggung jawab itu. Jangan pernah mencari dalih untuk mengabaikan tanggung jawab sebagai ibu, karena Anda bekerja. Pastikan semua tanggung jawab Anda terlaksana. Pastikan anak Anda mendapat semua kebutuhannya, saat Anda berada di luar rumah.

Saya adalah anak yang dibesarkan oleh ibu yang bekerja. Emak saya bukan pekerja kantoran. Tapi ia bekerja. Dia bekerja di ladang, kebun, juga berdagang, dan merias pengantin. Tapi tak pernah saya merasakan Emak mengabaikan tugasnya sebagai seorang ibu.

Ada banyak ibu seperti emak saya. Mereka bekerja di sawah, ladang, pasar, laut, sungai, dan berbagai tempat lain. Mereka tetap menjadi ibu, secara utuh.

catatan Kang Hasan

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Ibu & Bayi