Renungan tentang Rendah Hati

Ada doa yang senantiasa di ulang ulang oleh Rasul, ” Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.” Salah satu sahabat bertanya kepada Rasul “Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan kepada apa yang Anda bawa.

Lalu apakah Anda masih khawatir kepada kami?” beliau menjawab: “Ya, karena sesungguhnya hati manusia berada di antara dua genggaman tangan Allah yang Dia bolak-balikkan menurut yang dikehendaki-Nya.” Apalah kita di bandingkan Rasul yang jelas dijamin Sorga oleh Allah tapi tetap berdoa seperti itu.

Ibu saya selalu menasehati saya kalau melihat orang lain melakukan kemungkaran atau melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan tuntunan Agama, jangan sekali kali tunjuk hidung dia atau sebut namanya sebagai orang jahat, inkar atau kafir, atau munafik, atau murtad. Jangan. Tapi cepat cepatlah berdoa kepada Allah ” Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.”.

Mengapa ? Karena apalah kita untuk bisa menentukan seseorang seperti definisi Allah tentang orang yang inkar, munafik, murtad, atau kafir. Hanya Allah yang tahu sebenarnya tentang orang itu. Kita hanya melihat yang zahir agar bijak bahwa kapapun kita akan seperti itu kalau Allah berkehendak. Berdoalah kepada Allah agat kita tetap dalam ketaatan, bukannya malah menghujat orang itu dengan kesombongan.

Jadi apapun yang kita lihat itu adalah tebaran ayat ayat Allah agar kita kembali kepada Allah dengan rendah hati. Untuk diri kita sendiri yang tahu tanpa Allah kita bukanlah siapa siapa. Amalan kita , kesholehan kita bisa saja , kapan saja berubah menjadi sejahat jahatnya manusia.

Dan orang yang kita lihat jahat , kafir, murtad menurut pandangan zahir kita bisa saja disuatu saat dia lebih sholeh dari kita dan mati dalam keadaan sebaik baiknya kesudahan. Dan ingat manusia tidak di nilai atau di tentukan semasa dia hidup tapi di tentukan ketika setelah dia meninggal. Di saat itulah dia akan berhadapan dengan Allah yang akan menilai dan menetukan kadar keimanannya.

Jadi andaikan ada orang yang berbeda iman dan mungkin mereka berusaha merendahkan kita dengan pemikirannya,, bahkan lebih buruk dari itu seperti yang di lakukan oleh Abdullah bin Ubay terhadap Rasul :” Ia memfitnah Aisyah berzina, ia mengatakan akan mengeluarkan orang mukmin dari Madinah [ peristiwa perang Al Ahzab ]. Ia membuat fitnah. Ia memisahkan diri dari perang. Ia memecah belah kaum muslimin”. Tapi Rasul lebih memilih mendoakannya ketika meninggal.

Mengapa? Kalaulah benar itu orang kafir di hadapan Allah, apapun doa kita tidak ada artinya. Tapi itu tidak menghalangi kita untuk mendoakannya. Karena kita bukan Allah yang maha tahu…Sikap kita beragama yang paling utama adalah rendah hati dalam keimanan.

Pahamkan sayang?

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Akhlak Mulia