Mosok Tuhan Hanya Paham Bahasa Arab?

Minggu berlalu ada yang kesal karena saya menulis “Puji Tuhan” sebagai ganti Alhamdulilah. Bagi sebagian temanĀ², keislaman itu diukur dengan terma & berbahasa Arab. Parameternya simbol, tampilan phisik atau perangkat budaya saja. Daster, celana cingkrang atau jejak tikar di jidat.

Baruch Hashem Adonai, Terpujilah nama Tuhan, semua bahasa & ekspresi budaya adalah milik Tuhan. Sebab, Dialah sumber segala sesuatu. Baik & buruk milik Tuhan. Hanya saja Tuhan ingin & ridla yang baik-baik saja.

namun banyak juga yg berpikir

  • Mesti alhamdulilah utk ungkapan syukur & senang. Harus astaghfirullah untuk rasa bersalah atau sesal. Mesti Allahu Akbar untuk ketakjuban & merasa sesuatu yang tak terpikirkan & menunjukkan kuasa Tuhan. Mesti Allah utk seruan kepada Dia.
  • God, Yahweh, Tuhan, Thian, Pangeran, Godha, Ahuda Mazda, Elohim, Gusti, dsb, gak layak digunakan utk menyeru Dia. Harus Allah.
  • Rumah Tuhan hanya masjid. Selainnya bukan. Sinagog, Gereja, Wihara, Gudwara, Kuil, Lithang, Candi dsb tak layak disebut Rumah Tuhan. Itu rumah hantu.

Seakan Tuhan hanya ridla, mau paham bila dengan bahasa Arab. Hanya bahasa Arab yang dikehendaki oleh-Nya. Bahasa Arab bahasa surga. Sok ngarab. Bahasa tak lebih perangkat budaya & media ekspresi Ekspresi agama.& ilmu pengetahuan. Padahal orang Arab sendiri gak segitunya. Biasa saja. Bahkan mereka cenderung terbuka & open mind.

catatan Mohammad Monib di Facebook

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Spiritualitas