Hadapi Hidup dengan Senyum

Anakku, Ada orang berpeci putih. Nampak suci karena membaca kitab suci. Orang banyak mengitari. Memujinya bagaikan Nabi. Entah bagaimana bisa terjadi. Berjuta orang berlaku bagaikan sapi. Kemana langkah hendak di bawa, tergantung siapa yang menyeru pergi.

Padahal kualitas akal menentukan kualitas Iman. Tidak ada paksaan soal iman. Hidayah hanya Tuhan yang punya. Di berikan kepada manusia sesukaNYA.

Lewat diri mengenal Tuhan. Lewat Tuhan mengenal Cinta. Lewat cinta menjunjung Tauhid. Sholat-pun berbuah budi. Yang jauh mendekat, yang dekat merapat. Karena hati berkata suci, melembutkan hati menjauhkan benci. Menguatkan hati, menebar maaf. Menabahkan hati memberi maaf.

Bukan aku yang lebih beriman dan kamu yang kurang iman. Hanya Tuhan yang tahu kadar iman. Walau kita memang berbeda, namun berasal dari Tuhan yang satu. Saling mengingatkan memperkuat qalbu. Karena kita semua adalah satu.

Negeri elok dizambrud khatulistiwa. Banyak orang memuja. Harta bukan segalanya tapi SDA di jarah kita juga yang sengsara. Kemerdekaan adalah berkah Tuhan namun kemalasan membuat sengsara. Bukan salah bunda mengandung buruk suratan tangan sendiri.

Karenanya jangan takut untuk berusaha mandiri, untuk negeri tercinta lestari. Tak ada jalan yang sulit, kecuali pikiran terlanjur sempit. Bukalah hati, buka pula mata, agar pikiran menuntun hati. Kita semua bisa berprestasi, semua mungkin di alam demokrasi.

Anakku, hidup ini bukan apa yang kamu pelajari, tapi apa yang kamu ajari. Bukan apa yang kamu tahu, tapi apa yang kamu beri tahu. Bukan apa yang kamu katakan tapi apa yang kamu jalankan. Kalau kamu beprestasi ,terkenal, menjabat tanpa korupsi, murah berbagi, teguh hati memegang amanah, tidak lemah ketika di demo berjamaah, rendah hati dikala di maki, tidak merasa tinggi ketika di puji

ingatlah ingatlah, akan selalu ada orang membencimu. Itu bukan antara kamu dengan mereka, Tapi sebetulnya itu antara mereka dengan diri mereka sendiri. Mereka membenci diri mereka sendiri. Karena kamu adalah manifestasi impian yang gagal mereka tapaki.

Jadi Nak, hadapi hidup ini dengan senyum. Hiduplah berakal agar matipun beriman. Bukan banyak teman jadi ukuran, bukan pula banyak harta jadi ukuran, pun bukan tinggi takbir ukuran iman.

Tapi teman yang membawamu ke mata air, itu yang utama. harta yang tak membuatmu tamak, itu yang menyelamatkan dan takbir yang memperkuat tenggang rasa, itu yang meninggikan syiar

Pahamkan sayang?

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Catatan Kecil