Tugas Kita Bukan Untuk mengubah Kesedihan!

Tatkala kita berkunjung ke kota kelahiran, bertemu teman sekolah dasar atau mantan pacar, biasanya muncul emosi yang terselip sejak lama. emosi tersebut bisa berupa kebahagiaan dan tidak jarang pula bernama kesedihan. 

Walau kita baru mengingatnya dan merasa bahwa ia baru hadir, sejatinya ia sudah ada dan mengendap dalam diri kita sejak kejadian yg menimbulkan emosi tersebut terjadi. Secara alamiah kita akan berlama lama dengan nostalgia memori kesenangan dan akan menghindari rasa sedih.

Rasa senang kita pompa dengan gas agar terus membumbung sementara kesedihan kita tanam dalam-dalam.
seperti hukum alam pada benda, balon akan mereda dan turun kembali, juga yang tertanam akan meledak keluar ke permukaan.

Baca Juga:

Melampaui Benar dan Salah

Dalam kelas-kelas meditasi, hampir semua Guru meminta kita untuk tidak terlibat kembali pada emosi yang muncul. Mereka meminta kita hanya menyaksikan, menyaksikan dan menyaksikan. menjadi ‘saksi bisu’ atau ‘silent witness’ begitu istilahnya. kesenangan di saksikan , ketidaknyamanan disaksikan pula.

Biarkan mengalir, apakah itu berbentuk suara, gambar atau perasaan, tidak perlu diikuti, dirasakan, atau bahkan diberi makna ulang.

Memberi perhatian pada emosi tersebut adalah sama halnya memberi energi. Menerima, berserah atau ikhlas saya maknakan sebagai menerima seutuhnya tanpa diberi label.

Perasaan nyaman tidak ditempatkan pada sofa empuk begitupula kesedihan bukan di lantai, keduanya diterima apa adanya, membiarkan dan merelakan mereka pergi, semua emosi itu lepas. biasanya pada tahap ini, ada banyak kepentingan didalam yang saling tarik menarik, banyak bagian dalam diri yang ingin ia tetap eksis, bersama drama-dramanya di dalam.

Ia membentuk sebuah opini dan berjibun alasan terlihat sangat masuk akal dan hampir selalu kita percayai.
kita tidak mau melepas karena kita berpikir kalau emosi itu kita lepas maka kita merasa bahwa kita bukan diri kita seutuhnya. kita tidak menjadi diri sendiri.

jikalau kita belum merasa sanggup untuk melepasnya, tahapan awal yang bisa kita lakukan adalah mengakui bahwa kenangan-kenangan itu masih melekat di dalam diri, juga memgakui bahwa kita menikmati kehadirannya.

Baca juga:

Menyingkirkan Penghakiman dari benak kita

Sabarlah, ulangi kembali beberapa saat atau beberapa hari kemudian. Mungkin ia lepas dalam sekali namun tidak jarang juga berkali-kali. seringkali kita merasa sudah terlepas namun selama kita masih menggendong emosi apakah itu senang atau sedih, itu artinya ia masih di dalam.

Tugas kita bukan mengubah sedih menjadi senang, namun lebih dari itu membiarkan keduanya lepas mengalir, membebaskan diri kita dari semua label, semua kemelekatan , menjadi seperti bayi, melihat apa adanya.

catatan Gobind Vashdev

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Catatan Kecil