Renungan Tentang Kepemimpinan

Orang minang punya istilah soal merantau ini “Karatau madang di hulu, Babuah babungo balun, Marantau bujang dahulu, Dirumah paguno balun”. ( merantaulah kamu dahulu, karena dikampung kamu belum berguna.) Untuk berguna ya harus sukses.

Umumnya putra minang merantau tidak punya modal , kadang pergi hanya naik bus seperti dulu saya merantau. Uang hanya cukup untuk makan selama diperjalanan. Namun bekal ketrampilan untuk bisa survival dirantau hampir dimiliki oleh semua putra minang, seperti memasak, menjahit pakaian, memperbaiki jam tangan, bertukang, dll. Umunya mereka mendapat didikan dari pamannya. Memang tugas paman untuk mendidik ponakannya agar bisa survival dan mandiri.

Biasanya sampai ditempat tujuan, putra minang akan mencari induk semang melalui bantuan dari teman yang telah lebih dulu merantau. Jadi bukannya mendatangi sanak family. Seperti ungkapan adat ; Jika buyung pergi kelepau.Hiu beli belanak beli.Ikan panjang beli dahulu. Jika buyung pergi merantau. Ibu cari dunsanak cari. Induk semang cari dahulu.

Baca juga:

Pemimpin dan Otoritas

Dari induk semang inilah dia membangun trust melalui kerja keras dan loyalitas , dan berharap suatu saat mendapat modal untuk berniaga. Selalu biasanya upaya itu berhasil.Karena upaya membangun trust itu bukan pandai mencari muka tapi memang didikan surau selama dikampung membuat putra minang memang religius dan berakhlak islami. Sehingga tidak sulit bagi mereka untuk mendaptkan trust dari induk semangnya. Itu saya alami ketika mendapatkan modal awal dari orang asing, yang bukan orang Islam.

Jadi wiraswasta bagi budaya minang adalah budaya mencetak seorang pria menjadi “laki laki”.Dia harus memulai dari “nol”.Dia harus merasakan sakitnya diacuhkan orang lain, pedihnya kata dari induk semang karena barang tak laku dijual, dia harus menanti makan sampai barang laku terjual. Dia harus berkorban demi amanah dari induk semang. Dari nothing inilah dia tumbuh seperti ulat didalam kepompong yang berusaha keluar melalui lubang kecil untuk menjadi kupu kupu yang indah. Menjadi something.

Jadi merantau untuk berniaga sebagai adat merupakan cara melaksanakan Sunnah Rasul bawa setiap laki laki adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungan jawabnya kelak dihadapan Allah. Mengapa ? Melalui wiraswasta ala adat minang kami dididik secara mandiri untuk menjadi pemimpin.

Baca juga:

Renungan Tentang Kekuasaan

Karena kepemimpinan adalah hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika adat dan agama sebagai visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dilingkungannya , pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati.

Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang..dan itu bukan instant seperti mie instant..rasa ayam tapi bukan ayam..

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Catatan Kecil