Renungan Tentang Tenggang Rasa

Cobalah ketika anda mendengar kabar dari teman bahwa ayahnya meninggal.Kemudian anda mengucapkan seperti ini ” Oh ayah kamu mati ya. Saya doakan semoga dia diterima di sisi Tuhan.” 

Saya yakin dengan menyebut “mati” itu, teman anda akan tersinggung. Walau memang faktanya ayahnya mati. Walau anda iringi dengan doa segala, tetap saja suasana hatinya terganggu karena menyebut kalimat ” mati”. Tapi akan lain terimanya bila kata mati itu diganti dengan “tutup usia”.

Siapapun dia , walau penjahat atau pendosa sekalipun tidak akan terima bila menyebut ” Setan kamu !”. Padahal jelas ulahnya seperti analogi setan. Tetap saja dia tersinggung.

Juga kalau anda bertemu orang beragama ( apapun agamanya ), lantas dengan entengnya anda sebut kafir. Padahal jelas menurut ukuran anda dia kafir, namun tetap saja dia tidak terima. Suasana hatinya terganggu. Siapapun manusia, tidak suka di analogikan dengan hewan yang menjijikkan, seperti “kecebong atau monyet, atau anjing”.Mengapa? karena dia manusia dan tentu dia tidak mau dianalogikan dengan hewan.

Apa yang saya jelaskan tersebut adalah menjaga suasana hati orang lain dalam bertutur kata. Dalam istilah Minang disebut “tenggang patenggangkan, dalam bahasa Jawa “tepo seliro”, itulah budaya ,moral ,etika dan norma yang berlaku dalam masyarakat beradab.

Dalam islam lebih tinggi lagi ,menjaga perasaan orang adalah hiasan budi yang bertumpu pada keindahan Akhlak. Anda tahu orang itu bersalah,kemudian anda sampaikan depan umum dengan suara lantang,tetap saja dia tidak terima. Suasana hatinya terganggu. Itu sama saja menghujat. Dosa. Tapi anda sampaikan hal yang sama ditempat orang lain tidak mendengar, itu namanya “menasehati”. Soal dia mau terima atau tidak, anda tetap dapat pahala.

Bagaimana seharusnya sikap kita bila orang berlaku tidak beradab terhadap kita?

Saya pernah menyaksikan seorang sahabat saya , direktur MNC di bully oleh relasinya di depan teman temannya. Tidak sedikitpun sahabat saya itu marah.Wajahnya tetap berhias senyum. Mengapa ? menurutnya, Relasinya sedang menunjukan kelasnya dihadapan orang lain dan mereka semua yang beradab sadar bahwa dia tidak qualified untuk didekati.

Yakinlah, dia sedang memutus jalur rezeki dari Tuhan. Selagi dia tidak tidak rubah sifatnya, dia akan selalu menumpang tawa di tempat ramai dan menangis ditempat sepi. Hidupnya penuh amarah, prasangka dan dia sedang membunuh dirinya lambat lambat

Nak…Ingatlah pribadimu dilihat orang dari cara kamu berbicara dan intelektualitas kamu diliat dari cara kamu menyampaikan pikiran kamu dan akhlak mu di liat dari caramu menerima prilaku buruk orang lain.

Hiduplah bertenggang rasa, tepo seliro, lihatlah apa yang akan terjadi kemudian dengan hidupmu. Yang jauh mendekat dan yang dekat merapat. Jaringan teman bertambah luas dan rezeki terbuka lebar, kamu tidak perlu menumpang tawa ditempat ramai dan tidak perlu menangis ditempat sepi

pahamkan sayang ?

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Akhlak Mulia