Menyikapi Keberhasilan Orang Lain

Mungkin masih banyak diantara kita yang begitu tidak nyamannya dalam menerima kenyataan bahwa kita semakin tua setiap harinya. Sementara kita tidak begitu peduli jika kita tidak kunjung dewasa.

Padahal, menjadi semakin tua adalah kehormatan dan anugerah dari Tuhan, yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Maka belajarlah untuk membuat hidup ini semakin bermakna dan berwarna.

Mari kita syukuri terus hidup ini dengan membawa harapan dan kedamaian, dan bukan kebencian yang berlandaskan ketakutan. Sebab, 4+3=7 dan begitu pula 1+6=7, 2+5=7 dan 7+0 pun juga 7.

Oleh karena itu, jika sampai keberhasilan orang lain masih saja mengganggu dan mengusik hati kita, maka itu saatnya kita harus lebih banyak lagi belajar, ketimbang terus-menerus mengajar.

Dalam belajar pun harus bisa tuntas minimal pada satu Guru. Jangan pindah sana pindah sini lalu tiba-tiba mengobral ilmu. Ini boleh jadi karena diri merasa yang paling tahu, atau sudah tertipu hantu blau.

Kita juga perlu berhenti meludahi langit, agar kita tidak menjadi sengit atas perjalanan orang lain yang terus-menerus bangkit, sementara kita hanya bisa mencibir nyinyir menebar anyir.

Pada gilirannya, kita semua akan berhadapan dengan pertanyaan mendasar, apakah kita lebih khawatir akan keberhasilan orang lain, atau sebenarnya kita tengah khawatir atas kegagalan kita sendiri..

catatan Jhody Arya Prabawa

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Catatan Kecil