Sebuah Kisah Nyata tentang Cinta Tanpa Syarat

Suatu saat saya pernah di undang makan malam oleh seorang boss holding company raksasa di China. Sebetulnya saya sudah berkali kali mengundangnya makan malam namun selalu saja dia punya alasan tidak bisa memenuhi undangan saya.

Maklum di China, kalau anda bisa mengundang Boss makan malam, itu tandanya anda sudah merebut hatinya. Tentunya banyak hal yang dapat kita lakukan dan peluang terbuka lebar. Saya tidak pernah lelah menanti dia punya kesempatan. Dan tiba tiba dia sendiri telpon saya untuk mengundang makan malam. Betapa senangnya saya.

Saya berusaha datang tepat waktu di salah satu restoran di kota Shenzhen. Tepat saya datang, dia sudah menanti di loby hotel. Dia tidak datang sendirian ” Kenalkan ini ibu saya, istri saya, mantu saya, putra saya dan ini cucu saya ” Katanya menyalami saya dengan hangat.

Saya perhatikan ibunya sudah uzur , duduk diatas korsi roda. Restoran itu berada di lantai dua. Untuk naik bisa gunakan lift atau naik melalui tangga. Kebetulan entah mengapa lift ke lantai dua sedang rusak. Kami harus menanti lift yang lainnya dari kuridor lainnya. Namun dia memutuskan untuk naik tangga saja.

Dengan sigap dia menggendong ibunya yang telah uzur dan korsi roda di titipkan di loby. Saya perhatikan dia menggendong ibunya dengan senyum tanpa ada rasa sedikitpun kelelahan menaiki anak tangga. Sambil menggendong dia berbicara dengan saya.

Ibunya sakit tulang punggung sejak beberapa tahun lalu. Dokter sarankan operasi tapi dia menolak karena usia ibunya sudah diatas 80 tahun. Setelah sampai di lantai dua, dia mendudukan ibunya di korsi dengan hati hati. Saya perhatikan begitu agung rasa cintanya kepada ibunya. Apalagi selama maka malam itu sambil bicara dengan saya, dia dengan sigap mengambil menu makanan yang tersedia ditable untuk ibunya. Kalau nampak sisa makanan di bibir ibunya dia segera mengelapnya.

Baca juga: 

Kata Ucapan Rindu dan Kangen pada Ibu Tersayang

Dengan rendah hati dia mengatakan bahwa dia bersyukur kepada istrinya karena dengan sabar mengurus ibunya sejak ayahnya meninggal sehingga dia bisa bebas dalam kesibukan mengembangkan bisnisnya. Saya bisa maklum, tentu istri akan begitu mencintai mertuanya karena sang suami begitu agung menempatkan ibunya sendiri di hadapan siapapun.

Kalau ingin melihat wajah Tuhan maka lihatlah wajah ibu. Dari ibu kita mengenal bahasa cinta, pengorbanan tanpa batas, dan tentu cara kita belajar arti mencintai. Bagaimana bersikap sabar atas sikap ibu yang sudah tua sebagaimana ia sabar membesarkan kita. Mencintai ibu adalah sumber kekuatan tanpa batas, dan sehingga tidak ada yang sulit didunia ini. Semua menjadi mudah dan indah. ” Demikian katanya.

Usai makan malam saya termenung lama. Saya dapat hikmah dari pertemuan ini. Seorang pengusaha berkelas dunia yang begitu bangga memuliakan ibunya di hadapan relasi dan anak mantunya.

Yang dalam islam di ajarkan, kalau ingin merasakan sorga di dunia maka muliakanlah ibu. Dan bila hidup semakin sulit , kaya tak bahagia, miskin menderita, cobalah introspeksi diri, mungkin anda pernah menyakiti hati orang tua, khususnya ibu. Sujudlah! Minta ampunlah kepada ibu. Karena semua dosa akan di tunda azabnya oleh Allah sampai hari kiamat, kecuali durhaka kepada ibu bapak.

Baca juga:

Kata Mutiara Khusus untuk Ibu Tercinta

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Akhlak Mulia