Menyingkirkan Penghakiman dari Benak Kita

Terlalu banyak waktu kita terkuras untuk memikirkan orang lain. Sebagian besar energi pikiran dicurahkan untuk meneliti, menganalisa, mengintepretasi, membandingkan, menduga, memberi label, menghakimi bahkan menuduh.

Kita banyak sekali belajar bagaimana mengelompokan sifat, mengkotak-kotakan karakter, menggores garis utk membuat batasan lebih tegas antara baik-buruk, boleh-jangan, sesuai-tidak, saya-anda. Kita tidak melihat manusia lagi, kita melihat orang bagaikan produk, ada yg mulus, ada yg cacat.

Kita ingin terlihat heroik dengan berusaha memperbaiki orang lain, seolah-olah perbuatan kita adalah murni untuk kepentingan orang lain.

Baca juga:

Kesabaran untuk Menjadi Pemenang

Kita sering lupa bahwa niatan memperbaiki orang lain sering kali timbul dari ego. Ketika kita ingin memperbaiki orang lain kita secara tidak langsung merasa bahwa kita lebih baik dari mereka.

Kita juga sering merasa bahwa menolong orang adalah untuk kepentingan orang tersebut, namun lebih sering adalah untuk kepentingan diri sendiri, agar kita merasa mempunyai arti dalam hidup ini.

Kita telah lama melupakan kondisi internal diri, kita terlalu sering bermain di luar. Ketika kita masuk kedalam, barulah kita sadar bahwa tidak ada yg perlu diperbaiki diluar sana, satu-satunya yg perlu dibersikan adalah diri ini.

Orang yg sebelumnya kita lihat jahat berubah jadi baik disaat lensa kita bening. Mereka yang dirasa menyulitkan tiba-tiba menjadi mudah, bukan karena mereka berubah, namun karena kita cara, sudut pandang dan kedalaman kita melihat yang berbeda.

Disaat kita membersikan bagian dalam diri, pelahan-lahan kita mulai mengerti mengapa pencuri atau perampok melakukan pekerjaannya.

Tatkala hakim-hakim di benak kita lengser, bertahap kita mampu melihat penderitaan orang-orang dengan label ‘Manusia sulit’ tersebut.

Baca juga:

Renungan Tentang Memaafkan

Menghakimi lalu menghukum bukanlah solusi, hukuman dengan maksud baik sekalipun seringkali menjelma menjadi luka yg baru

sementara mendengarkan, memahami dan menerima seutuhnya memang bukan obat ajaib nan instan namun semuanya itu bagaikan salep yg menyembuhkan, dikala kita sabar mengoleskannya.

catatan Gobind Vashdev

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Akhlak Mulia