Sebuah Cerita Nyata Tentang Tauhid

Seorang teman pernah cerita kepada saya bahwa ketika dia bangkrut, dia kehilangan bukan hanya harta tapi keluarganya. Setelah itu para sahabat menjauh. Belum lagi akses mendapatkan modal semakin sulit di dapat. Dalam sulit tersebut, diapun terkena penyakit batu empedu yang mengharuskannya di operasi.

Setelah operasi, dia tidak bisa lagi bekerja keras. Buka usaha tidak bisa karena tidak ada akses modal. Mau kerja keras sudah tidak bisa seperti orang lain karena penyakitnya. Tapi menurutunya justru dengan kekurangannya itu dia bisa kuat dalam bentuk lain.

Apa itu? Dia menawarkan diri sebagai penasehat investasi yang berkaitan dengan peluang dan legalitas bisnis di Indonesia. Jadi semacam data dan informasi provider yang khusus melayani pebisnis dari luar negeri. Dia kelola sendiri bisnis itu dengan menawarkannya jasanya melaui internet.

Lambat laun ada clients yang meminta dia membuat laporan peluang investasi di bidang CPO , lengkap dengan informasi business network potential di indonesia berserta proses mendapatkan izin sebagai pedagang maupun perkebunan. Dari satu clients berkembang menjadi beberapa clients. Itu pekerjaan dilakukannya dari rumah dengan modal hanya komputer.

Menurutnya dalam setahun dia bisa menghasilkan pendapatan lebih dari USD 300,000. Dan hebatnya itu semua di kerjakannya sendiri. Jasanya di bayar secara online dan hasil pekerjaannya di kirim secara online. Dia melayani clients dari Timur Tengah, China dan lain lain.

Dari pekerjaan barunya ini dia bisa menikmati rutinitas hidup yang teratur dan beribadah pun mudah. Kesehatannya lebih terjaga dan berinteraksi dengan teman serta handaitolan lebih punya waktu. Berderma tidak perlu banyak mikir.

Beda dengan dulu waktu dia masih jadi pabrikan. Waktu tidak ada untuk kegiatan sosial. Karena kesibukan itu kesehatannya memburuk. Semua di hitung dengan uang dan ambisi sehingga rasa kawatir selalu menyelimuti hidupnya.

Bagaimana dia bisa tenang menghadapi badai kehidupan sehingga bisa mendapatkan hikmah? Menurutnya dia memang bangkrut tapi secara spiritual dia tidak bangkrut. Pemahaman tauhid tertanam kokoh dalam dirinya. Dia tidak protes kepada Tuhan atas apa yang terjadi pada dirinya. Dia sadar bahwa itulah kehendak Tuhan. Ikhlas adalah kata kunci untuk membangkitkan aura positip dalam dirinya.

Hatinya tentram dalam kekurangan untuk tak ragu melangkah kedepan. Walau banyak teman bisnis menjauh , dia tidak kecewa dan tidak pula menyalahkan orang lain. Dia dapat maklum dan penuh prasangka baik. Bahwa orang punya hak untuk menentukan standar siapa yang pantas di temani. Dari sikapnya itu, membuat sahabatnya berimpati dan mengerti bahwa dia bukan orang yang perlu di jauhi karena dia tidak hendak meminta. Dia hanya meminta kepada Tuhan.

Karena sikap berpikir positip itu, dia tidak dendam kepada istrinya yang pergi meninggalkannya ketika dia jatuh bangkrut. Dia tetap memaklumi atas dasar cinta. Dia juga tidak membenci sanak famili yang merendahkannya ketika bangkrut.

Ketika dia kembali mapan, dia berusaha merajut kembali hubungan itu dengan melakukan silahturahmi kepada mereka. Istrinya kembali kedia , dan juga anak anaknya. Para famili mulai menghargainya. Akhirnya dia menemukan manis cinta dan kasih sayang karena Tuhan. Itulah Tauhid. Orang yang bertauhid, dalam situasi apapun dia selalu bisa membaca hikmah sebagai pesan cinta dari Tuhan untuk dia berubah menjadi lebih baik…Engga mau move on itu artinya tidak bertauhid…

Pahamkan sayang?

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Yuuk langganan Blog Semakinra.me

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Akhlak Mulia