Seandainya Rasul Turun di Jawa…

Bila Rasul turun di Jawa, pasti al-Qur’an berbahasa Jowo. Sekalipun sebagai kitab suci ini kabarkan bahwa tiap bangsa, Tuhan sudah kirim seseorang yang membawa missi profetik. Kenabian.

Lantas, mengapa Rasul atau Nabi identik dengan jazirah Arab? Apa istimewanya bangsa ini? Lalu bagaimana dengan Nabi Sidharta, Zarathustra dan Hindu dsb? Saya melihatnya dari beberapa sisi:

Pertama, Adam-Hawa tidak bisa kita potret jenis bangsa dan rasnya. Juga bahasa dan simbol komunikasinya. Manusia pertama ini beyond klasifikasi itu. Buku² keagamaan dan antropologi kabarkan ia diturunkan di jazirah Arabia, beranak dan bercucu di sana. Lokus tumbuhnya di sekitar Makkah yang kini jadi bagian² manasik umrah atau Haji. Itulah mengapa ibadah ini jadi proses putar ulang memori dan napak tilas kemanusiaan.

Kedua, terjadi sporadisasi manusia pasca Adam. Dari sinilah “klasifikasi” antropologi itu terjadi. Manusia Eropa, Afrika, Asia, dan Amerika.

Ketiga, menariknya, terkait pesan ketuhanan, Tuhan terasa hanya mengutus Nabi² dari bangsa Asia.Tidak ada Nabi bangsa Amerika atau Eropa. Yahudi, Kristen dan Islam, juga Hindu, Buddha, Zoroaster, Sinto, dan Khong Hucu itu Asia.

Keempat, perkara bahasa Arab jadi bahasa al-Qur’an, ya karena Rasul Muhammad bangsa dan suku Arab. Sekaligus situasi, problem, konstruksi sosio-budaya-antro-politik ini jadi “wahana komunikasi” Tuhan dengan kehidupan via Rasul. Itulah maksud al-Qur’an tidak turun dalam ruang vakum dan turun langsung segebok. Ia dialektika dan semacam resiprokal alam atas dan bawah. Asbab al-nuzul bahasa teman² studi tafsir.

Bahasa Arab memang tak lebih dari sekadar medium komunikasi antara Tuhan dengan manusia via Rasul. Ia bagian dari agama Islam tapi ia bukan Islam itu sendiri. Kita bisa memilah dan memilih mana Islam mana bahasa Arab. Lebih jauh, kita bisa bedakan mana Islam mana budaya Arab. Clear dan terang.

Bahasa Arab bagian dari kunci memahami Islam secara baik. Literatur dan referensi utama agama ini ditulis indah dan sangat kaya dalam bahasa ini. Bahasa hati adalah kunci al asyiqqa, ketika hati sudah diberikan, jagalah ia. Lebih² kuncinya sudah dibuang ke laut. Bahasa yang indah.

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Spiritualitas