Agama itu Bagai Menu di Meja Hidangan…

Agama itu, dalam pemahaman saya, serupa sajian menu resto Padang atau resto apapun. Barat atau Timur.Terhampar di atas meja hidangan. Pengunjung resto puunya hak milih sesuai selera & minatnya. Bagi yang selera dasarnya biasa makan ala Madura, soto atau sate, kemanapun menikmatinya. Begitupun bagi teman² yang lahir & selera asalnya Solo, Sunda, Aceh, Manado, Bali dsb.

Sudah tentu seseorang dapat mencicipi sajian makanan apapun. Pelaku passingover, dia bisa menikmati beragam menu agama. Ada juga yang pindah selera & menu. Itu dialami oleh mereka yang convert, pindah agama. Bagi saya, setiap orang punya hak untuk mencicipi menu-menu makanan apapun. Bahkan boleh kembali ke selera asal setelah mencicipi semua menu. Termasuk, membuang menu-menu itu. Lha, makan apa dong?!

Menu & sajian apapun bergantung kokinya. Semua menu itu baik, lezat & mengenyangkan para penikmatnya. Begitupun agama. Kokinya adalah para pengimannya; ada umat awam, ustadz, kiai, pendeta, romo, jamaah, Bikkhu/i, rahib, dsb. Masing² ada kapasitas, kemampuan mengolah & menyajikan.

Setiap menu & sajian itu punya karakteristik & rasa spesifik. Ada yang manis, sedap, sedikit pahit, hambar, kurang garam, sangat sedap dsb. Begitupun agama. Ada yang mengklaim agama sempurna, paling lengkap, paling afdhal & satu-satunya “menu” unggulan.

Menu-menu tertentu berpengaruh pada penikmatnya. Bikin pedes, kepanasan, sakit perut atau menyenangkan. Bahkan prilaku penikmatnya. Begitupun agama. Ada yang santun, lembut, sabar, damai & harmonis. Namun, ada juga yang emosi, ngamukan, bikin mules, marah, merusak & mau perang aja. Saya yakin, menu itu berandil & berkontribusi pada penikmat menu itu.

Menikmati menu itu butuh selera, bahkan nalar. Sebab, menu-menu itu ada yang punyw duri, tulang & cangkangnya. Kita mesti mampu menyingkirkan hal-hal yang bikin sakit, teriris & melukai. Cara menyajikan menu pun beragam. Ada yang disajikan secara bagus & indah.

Ada menu yang disajikan kulitnya, jeroan, tulang, rumit, & detailnya. Bergantung koki & daya beli pengunjung resto itu. Ada koki & chef yang pintar & hebat mengolah. Ada yang biasa-biasa saja.

Menu-menu itu bisa subyektif, sekaligus universal. Soto & sate bisa digemari oleh orang tertentu, bisa tak nikmat bagi orang lain. Begitupun agama. Setiap penikmat punya klaim; menu favorite. Islam, Yahudi, Kristen, Buddha, Hindu, Sikh, Bahai, Zoroaster, Kepercayaan. Ada penikmatnya & merasa sebagai menu pilihan terbaik.

Silakan pilih menu-menu itu sesuai kantong & selera. Yang terpenting, tak usah berantem & ngamuk karena merasa menunya yang paling sedap & nikmat.

sumber: catatan Mohammad Monib di Facebook

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Spiritualitas