Bekerjalah agar Hidupmu Menjadi Mulia!

Setiap manusia pada dasarnya butuh bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hidup manusia terasa bermakna jika ia sanggup bekerja, dan sebaliknya menganggur adalah hidup yang membosankan karena tanpa makna dan tidak memberikan manfaat, tidak untuk sendiri dan tidak pula bagi orang lain. Karenanya, bekerja menjadi salah satu hal terpenting dalam menopang kehidupan manusia dan pekerjaan merupakan kesamaan yang umum berlaku bagi seluruh umat manusia.

Islam, sebagai salah satu agama langit (samawi) banyak mengapresiasi nilai pekerjaan dan mendorong umat manusia agar giat bekerja. Ajaran Islam memerangi kemalasan, pengangguran, dan anti terhadap kegemaran meminta-minta. Tangan di atas, yakni memberikan sesuatu yang bermanfaat, itu lebih baik dari tangan di bawah, yakni meminta-minta.

Benar, bahwa dalam harta orang kaya sebagai anugerah Allah ada hak yang wajib diberikan kepada orang yang membutuhkan yang ia berani terang-terangan meminta dan kepada orang yang membutuhkan namun ia menahan diri dari meminta haknya demi menjaga kehormatannya.

Orang yang kaya tidak perlu angkuh, merasa mulia, dan tidak boleh mempermalukan orang miskin karena ia mampu memberinya, sedangkan pihak penerima yang miskin tidak patut merasa rendah diri karena memang ia perlu menerima haknya. Lebih-lebih Islam menjadikan iman dan pekerjaan yang baik (amal saleh) memiliki keterikatan yang sangat kuat.

Bekerja hanyalah sarana, bukan tujuan, sebagaimana uang hanyalah sarana untuk mencapai tujuan. Bekerja merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan demi meraih kualitas hidup yang baik atau lebih baik lagi. Sedang tujuannya adalah untuk memudahkan manusia beribadah kepada Allah swt. Bekerja adalah sebab untuk beribadah. Bekerja yang halal untuk memperoleh yang halal itu derajatnya lebih tinggi daripada jihad fi sabilillah.

Bekerja adalah cara dan jalan hidup bermartabat yang diteladankan oleh para utusan Allah terdahulu. Para rasul itu bukan para pemalas, tetapi mereka adalah para pekerja keras.

Nabi Adam ‘alaihissalam dan istrinya, Hawwa’, setelah tergoda bujukan Iblis, terusirlah dari surga, sehingga mereka bekerja sebagai petani. Di antara putranya ada yang bekerja sebagai peternak dan ada pula yang berprofesi sebagai petani.

Nabi Nuh ‘alaihissalam bekerja sebagai tukang kayu (najjar, woodworker). Nabi Idris ‘alaihissalam bekerja sebagai penjahit baju (khayyath).

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bekerja sebagai pedagang kain (bazzaz). Nabi Daud ‘alaihissalam makan minum dari hasil kerja tangannya sendiri sebagai spesialis pembuat baju besi untuk peperangan.

Sedangkan Nabi Muhammad shalla Allahu ‘alaihi wa sallama pernah bekerja sebagai buruh ternak domba milik ‘Uqbah bin Abi Mu’aith sebelum bekerja berdagang pada bossnya, Khadijah binti Khuwailid, sebelum akhirnya beliau menikahinya.

Para ulama sebagai pewaris ilmu dan amalan para Nabi pun wajib bekerja dan tidak terhormat serta tidak bermartabat mulia jika mereka hidup kaya karena meminta-minta.

Para cerdik cendekia, para pengusaha, dan pemerintah wajib bekerjasama untuk menciptakan seluas mungkin lapangan kerja untuk mengatasi tingginya angka pengangguran dan menurunkan tingkat kemiskinan. Banyaknya pengangguran dan meratanya kemiskinan berakibat sangat buruk bagi kehidupan bersama karena memicu tindak kriminal dan merusak keharmonisan keluarga maupun masyarakat.

Pemerintah wajib bersikap adil dalam tugasnya mengadministrasikan keadilan sosial, agar ketimpangan ekonomi antara yang kaya dan yang miskin tidak semakin menjadi-jadi. Pemerintah yang sedang berkuasa harus mengerahkan kemampuan maksimalnya untuk menyejahterakan rakyat.

Jika hal demikian itu dapat terwujud, niscaya kepercayaan rakyat terhadap pemerintah selamanya tidak akan tergoyahkan. Gerakan separatis dan sporadis anti pemerintah dengan mudah dapat diredam dan dikendalikan. Kata Sayyidina Ali, jika kemiskinan itu berwujud manusia, maka akulah yang pertama kali akan membunuhnya.

Apabila orang-orang kaya memiliki kepedulian sosial terhadap fakir miskin, niscaya harta benda mereka akan berkah, berkembang, dan tidak akan diganggu, sedangkan hati mereka tidak merasa cemas karena nyawanya terancam. Namun, seringkali kenyataan menunjukkan yang sebaliknya, bahwa yang kaya semakin kaya, sedangkan yang miskin semakin miskin. Orang miskin ingin kaya dan yang kaya bertambah rakus. Maka benarlah sabda Rasulullah shalla Allahu ‘alaihi wa sallama,

لو كان لابن آدم واديان من ذهب لتمنى إليهما ثالثا ولا يملأ جوف ابن آدم إلا التراب ويتوب الله على من تاب ( رواه الإمام أحمد في المسند)
“Kalau manusia mempunyai dua lembah dari emas, maka karena dua lembah emas itu ia berharap ada lembah emas yang ketiga. Perut manusia hanya bisa dipenuhi dengan tanah. Dan Allah menerima taubat dari orang yang mau bertaubat. ” (HR. Ahmad).

Bekerjalah secara halal untuk menghasilkan yang halal, hindarilah hidup sia-sia dengan menganggur, dan tetaplah bekerja tanpa sikap rakus terhadap harta benda. Semua itu menjadi sarana penting untuk hidup lebih bermakna, yakni hidup untuk beribadah. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku karena Allah, Tuhan semesta alam.

sumber: catatan Ahmad Ishomuddin di Facebook

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Spiritualitas