Orang Miskin itu Tidak Serendah yg Dipikirkan Banyak Orang…

Waktu naik ojek dari rumah ke pinggir jalan besar, tukang ojek cerita ” enak ya Pak jadi orang miskin di Jakarta. Anak anak dapat santunan uang dan sekolah gratis engga ada pungutan apapun. Disini sekolah gratis tapi pungutan masih ada aja. Engga ada bantuan tunai untuk anak miskin. Saya sih engga peduli makan sekali sehari , yang penting anak anak sekolah.”

kemiskinan (ilustrasi)

Saya hanya meminta dia bersabar dan menanyakan ” Andaikan gubernur kamu kafir tapi semua harapan kamu terpenuhi seperti di jakarta. Gimana?

Dengan santai dia jawab ” jangankan kapir, setan pun saya pilih kalau dia bisa jamin anak saya sekolah sampai jadi sarjana 

Teman saya cerita tadi pagi supirnya ngeluh karena kawatir Ahok di penjara karena menistakan agama. Supirnya tadi pemilih Foke dan ketika Ahok menang dia termasuk korban gusuran. Karena rumah kontrakannya di relokasi ke rusun. Dia dapat satu unit rusun.

Teman saya kasih dia motor untuk transfortasi karena jarak antara rusun dengan rumahnya cukup jauh” bukankah program Ahok adalah program Pemda. Jadi siapapun yang terpilih jadi gubernur tetap program yang telah di jalankan akan terus. Engga mungkin di batalkan” kata teman saya mencerahkan supirnya. Tapi supirnya engga paham soal itu. Dia hanya kawatir fasilitas yang sudah dinikmati akan sirna begitu saja.

Para orang miskin tidak serendah yang di bayangkan oleh sebagian orang yang menjadikan mereka sebagai komoditas untuk menjatuhkan lawan politik. Mereka tidak ada hendak melawan Pemerintah karana kemiskinannya. Apalagi menghujat dan mengeluh. Itu jauh dari jangkauan pikiran mereka.

Mereka sadar bahwa pemimpin bukan segala segala nya yang bisa menjamin semua keinginannya terpenuhi. Mereka hanya butuh pendidikan yang mudah dan murah untuk masa depan anak anaknya agar mereka punya hope di masa depan. Setidaknya kemiskinan mereka sebagai akibat rendah pendidikan tidak akan sama dengan anak anaknya yang mendapatkan kesempatan pendidikan lebih luas dan gratis.

Orang kecil paling bijak menyikapi hidup dan karena itu berkali kali negeri ini di pimpin dengan cara apa adanya mereka tetap sabar. Ketika pemilu mereka hanya memilih orang yang dekat secara batin dengan mereka, dan tidak peduli apakah orang yang di pilih itu seiman, sholat jarang atau bukan bertitel haji.

Itu sebabnya partai yang mengusung bendera agama tidak otomatis menjadi pilihan mereka. Antara agama dan politik tidak akan simetris selagi tokoh agama tidak bersikap simetris antara perbuatan dan kata. Tapi selagi ketokohan hanya menciptakan program kolosal yang ujung ujungnya minta sumbangan maka jangan salahkan preman pasar yang mengayomi orang miskin dapat terpilih jadi anggota DPRD, atau sikafir terpilih jadi gubernur atau bupati…

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Politik