Belajar dari Etos Kerja Bangsa China

Tahukah kamu , kata teman saya tadi siang. Apple adalah produk buah karya dari peneliti AS yang berkantor pusat di California, Cupertino. Namun produksi massal Apple bukan di AS tapi di Taipeh dan China.

Belajar dari Etos Kerja Bangsa China

Liuzhou city, salah satu kota modern dan terindah di RRC (ilustrasi)

Dari proses ini Apple menikmati value product dan intelektual property right dari kerja keras ratusan ribu buruh China. Hampir semua tekhnologi dari pusat riset di Eropa dan AS di produksi secara massal di China , India, Taiwan.

Saya mengangguk ada benarya kata teman itu. Saya lahir di Gunung Dempo Pagar Alam, namun saya merasakan teh Gunung Dempo itu ketika saya berada di Amsterdam. Pusat oleochimcal terbesar ada di China tapi tak ada satupun kebun sawit di China.

Indonesia yang merupakan pemilik lahan sawit terbesar di dunia, hanya punya kapasitas oleochemical tak lebih 10% dari produksi China. Arab Saudi merupakan negara penghasil minyak mentah terbesar namun refinery terbesar tidak ada di Arab tapi di China, Jepang dan AS. Hampir semua bahan baku untuk industry di China, Eropa, Amerika, dan lainnya pasti ada yang didatangkan dari Indonesia.

Baca juga:

Jalinan Kata-Kata Motivasi Pembangkit Semangat Kerja!

Negara berkembang yang di berkahi limpahan sumber daya alam memang beberapa dasawarsa menikmati kebebasan financial karena SDA nya memanjakan penguasa untuk membayar kekuasaan melalui program populis. AS yang di berkati dengan kemajuan tekhnologi menikmati royalti dalam berbagai bentuk dari industri di China, Korea, Taiwan, Jepang.

Mereka menikmati kebebasan financial dari itu. Mengontrol dunia dengan uang dan senjata. Tapi berlalunya waktu, SDA yang melimpah menghasilkan generasi lemah bersaing. Kehebatan ilmu pengetahuan dalam meningkatkan value perusahaan AS di bursa telah melahirkan generasi gila business illusi.

Apa yang terjadi kemudian?

AS terpuruk dengan beban hutang yang sulit di bayar. Indonesia dan negara yang kaya SDA lainnya terjebak hutang. Yang paling menyedihkan negara yang di berkati akal berlebih dan SDA berlebih tidak melahirkan generasi bijak dalam mennyikapi hidup.

Mereka terkesan pragmatis ilusi dan suka dengan too good to be true. Etos kerja menurun. Sementara China, India, Taiwan, jepang tumbuh menjadi negara kuat secara sosial maupun spiritual. Di tengah krisis global , rakyatnya tetap terus bekerja keras tanpa merubah gaya hidup yang efisien dan produktif.

China, Jepang, Taiwan memang negara subtropik yang tak punya SDA semelimpah kita. Cobaan mereka telah ada dengan alam yang tak bersahabat. Karena itu mereka sejak awal dan sampai kapanpun generasinya menanamkan keyakinan bahwa kerja keras , hidup seimbang, adalah kebijakan melewati hidup atau akan digilas oleh zaman.

Sementara kita dengan kekayaan SDA merasa itu adalah berkah yang tak ada ancaman apapun. Seakan hidup cukup di sikapi dengan mitos tak penting dunia, yang penting akhirat dan sorga. Kita lupa bahwa kelebihan dan kemudahan pemberian Tuhan itu bukan gratis tapi itu adalah cobaan terberat, bahkan lebih berat dari China yang gila kerja keras dan AS yang hebat science,

Selagi kita masih menganggap SDA bisa menjamin impian utopia sukses tanpa kerja keras maka kita masuk dalam perangkap dosa kolektif , yang tak pandai bersyukur dan tak bisa bersinergi dengan passion kerja yang tinggi untuk menjadi lebih baik dari China, bahkan negara manapun.

Makanya revolusi mental itu mutlak kalau kita ingin memutus mata rantai dengan sejarah masa lalu yang penuh dengan kebodohan dan kesia siaan. Beragama sajalah denga baik, setelah itu pastikan secara lahir sehat karena mampu memberi dan pastikan secara batin sehat karena bisa di terima oleh semua orang. Kalau secara lahir tangan dibawah, secara batin bikin orang banyak kesal, sorga yang diharap hanya omong kosong..

Pahamkan sayang?

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Catatan Kecil