Renungan Tentang Kebenaran

Ada teman saya di Shenzhen. Dia orang Dubai. Orangnya sederhana. Kali pertama bertemu dengan dia tahun 2010. Seorang teman banker memperkenalkan saya dengan dia. 

Pertemuan pertama kali di sebuah hotel bintang 3 yang sederhana di kawasan Dongmen. Awalnya saya ragu untuk bertemu tapi karena menghormati yang merekomendasi, saya temui juga dia. Saya dengan tegas menolak kerjasama yang dia tawarkan karena dia meminta kepastian return.

Baca juga: 

Sekelumit Cerita Tentang Membela Kebenaran

Tapi justru dengan sikap saya itu beberapa minggu kemudian dia memutuskan untuk kerjasama dengan saya. Menurutnya dia menyukai saya karena saya tidak mau memastikan masa depan. Itu puncak Tauhid, katanya.

Semakin lama semakin saya tertarik dengan teman ini. Saya tahu dia muslim. Namun dalam pergaulan dengan siapapun dia tidak terkesan berjarak. Belakangan saya tanya kenapa dia tidak pakai janggut? Alasannya sederhana karana dia businessman, tentu indetitas pengusaha yang harus dia jaga.

Pernah pada suatu saat dia di ceramahi oleh teman Pakistan yang juga sebagai ekspatriat lembaga keuangan. Walau terkesan menyudutkannya dan tendensius namun wajahnya tetap tersenyum. Tak terdengar dia membalas dengan umpatan yang sama. Menurutnya, bertengkar itu jelek.

Ketika sholat berjamaah di masjid , dia selalu jadi Makmun. Alasannya bahwa saya lebih tua dari dia. Saat itulah saya tahu bahwa dia syiah. Sayapun tertarik untuk diskusi lebih jauh dengan dia seputar agama. Namun dia selalu menghindari dialog soal itu.

Akhirnya saya dapat memaklumi karena dia dengan santai mengatakan kepada saya ” Kebenaran Tuhan itu universal yang diterima semua orang termasuk yang berbeda agama dan mahzab. Namun apabila keberadaan kita tidak disukai oleh orang lain, itu bukan kebenaran Tuhan yang di pertanyakan orang tapi memang akhlak kita tidak pantas mengusung kebenaran Tuhan.

Baca juga:

Keajaiban hanya bisa dipancing dengan Bersyukur

Artinya bila ada orang tidak suka dengan kita maka jangan buru buru mencap orang ingkar agama tapi lihat diri sendiri apakah kita pantas mengusung kebenaran atas nama Tuhan. Jangan jangan di hadapan orang lain kita masih beragama dengan ego dan nafsu, serta ingin pengakuan orang lain dengan simbol yang kita usung.

Padahal kehidupan ini, bukan apa yang kita katakan tapi apa yang kita lakukan. Sikap istiqamah itu seharusnya bagaimana kita bisa seperti ikan yang hidup di lingkungan asin namun tetap tawar. Keimanan itu harus dibangun dari sunatullah, mencintai Tuhan adalah juga mencintai manusia dan semesta, bertengkar itu jelek.

Pahamkan sayang ?

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Spiritualitas