Belajar dari Hijrah: Memperbaiki Akhlak Melalui Social Engineering

Hampir sepuluh tahun Rasul memperkenalkan agama Islam di kota Makkah namun hasilnya hanya segelintir saja yang beriman. Hanya keluarga, sahabat dekat saja yang mempercayai rasul. Akhirnya Allah perintahkan agar Rasul melakukan hijrah. Mengapa ?

Memperbaiki Akhlak Melalui Social Engineering

Bahwa sebenarnya rasul buka hanya memperkenalkan konsep Tauhid tapi yang utama adalah memperbaiki tatanan sosial umat manusia pada umumnya dan bangsa Arab khususnya. Atau yang kita kenal dengan istilah memperbaiki Akhlak melalui rekayasa sosial (social engineering) yang langsung Allah ajarkan dan Rasul melaksanakannya sebagai teladan bagi pengikutnya.

Mengapa harus hijrah? Karena lingkungan sosial kota Makkah sudah terbangun berabad abad yang sedemikian rupa telah terbentuk road block emosi, empati dan imajinasi yang tak mudah di ubah.

Selagi lingkungan masih di makkah maka upaya rasul akan gagal karena waktu. Dan hijrah adalah cara cerdas menyikapi sunattullah untuk menerapkan rekayasa sosial di kota yang lebih terbuka dengan pengaruh luar. Madinah adalah pilihannya.

Benarlah hanya 10 tahun setelah hijrah, rekayasa sosial yang di lakukan rasul di Madinah berhasil dengan lahirnya komunitas baru atas dasar cinta dan kasih sayang dengan meninggikan kalimah Allah. Hal ini tentu memberikan inspirasi kepada pendatang yang umumnya pedagang dari seluruh negeri dan kemudian memperkenalkan ajaran Islam ke negara atau kaumnya masing masing.

Sukses china sekarang karena rekayasa sosial yang di lakukan Mao melalui revolusi kebudayaan, yang memaksa rakyat china hijrah dari Budaya ; feodal, mistik , bertengkar, pemujaan terhadap patron klan dan agama , ke budaya kemandirian, emansipasi, kebebasan akal , emosi dan imajinasi, intelektual dan egaliter yang bertumpu kepada produksi.

Memang korban revolusi kebudayaan besar sekali tapi hasilnya China bisa memotong masa lalu untuk memperbaiki masa depan. Deng melanjutkan program Mao dalam bentuk karya nyata. Caranya , Deng menciptakan kota khusus baru misal Shenzhen. Zuhai, Tianjin, shenjiang, dll dengan maksud sebagai contoh untuk menjadi inspirasi bagi kota kota lain di china bagaimana seharusnya peradaban modern di bangun.

Dari keberhasilan rekayasa sosial terhadap kota-kota baru itulah menjadi pemicu bangkitnya prinsip revolusi kebudayaan yang sudah melekat di otak orang china, bahwa tidak ada kemakmuran tanpa kerja keras dan kerjasama. Setiap orang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri untuk mensejahterakan keluarga dan sahabat.

Apa yang di lakukan AHOK merelokasi kawasan kumuh ke wilayah baru dengan fasilitas rusun adalah upaya hijrah agar rekayasa sosial dapat dijalankan secara sunatullah, dan perubahan pasti terjadi secara alamiah.

Yang pasti di tempat baru, engga mungkin lagi buang sampah sembarangan, BAB di tempat seadanya, meludah seenaknya, kerja semaunya ,kerukunan mutlak terkendali karana sistem dan design layout bangunan memungkinkan itu.

Selagi ada orang atau pempimpin yang masih terus terjebak dengan program bantuan tunai langsung kepada rakyat dan kelurahan dan mengharamkan relokasi maka yakinlah dia memang tidak berniat melakukan perubahan tapi pengekalan kebodohan dan kemiskinan orang banyak agar kekuasaan menjadi berhala.

Pahamkan sayang?

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Akhlak Mulia