Berdamai dengan Diri Sendiri

Satu kalimat yang mudah diucapkan tapi sulit dilakukan adalah : Berdamai dengan diri sendiri. Seorang penguasa besar, panglima perang yang tangguh bahkan pemimpin agama yang memiliki banyak pengikutpun belum tentu bisa melakukannya. 

berdamai dengan diri sendiri

berdamai dengan diri sendiri

berdamai dengan diri sendiri

Berdamai dengan diri sendiri adalah puncak pertama dari spiritualitas seseorang yang bahkan nilainya lebih tinggi daripada ziarah keagamaan ke luar negeri yang menghabiskan biaya puluhan juta bahkan juga lebih tinggi dari “perang suci” sekalipun sebagaimana sabda Nabi : “Jihadul akbar jihadunnafs. Perang yang terbesar adalah perang melawan nafsu diri sendiri.” (H.R Muslim)

Saya akui saya kadang juga masih sulit berdamai dengan diri sendiri. Saya kadang masih terjebak oleh arus pemikiran ramai dan menulis sesuatu yang bernada provokatif yang menunjukkan bahwa sebenarnya saya masih termasuk orang yang belum bisa berdamai dengan diri sendiri karena hanya orang yang sudah bisa berdamai dengan diri sendirilah yang akan bisa berdamai dengan sesama, makhluk lain dan seluruh alam semesta.

Baca juga: Tirulah Nabi yg Menebarkan Rahmat, Jangan Menjadi Penebar Laknat

Berdamai dengan diri sendiri sesungguhnya adalah pesan dan inti ajaran dari semua Nabi. Jadi jika kita mampu melakukannya maka sesungguhnya kita telah melaksanakan pesan dan ajaran dari semua Nabi.

Orang yang mampu berdamai dengan diri sendiri sudah pasti akan bisa merasakan dan menikmati “Sorga” karena sesungguhnya iblis dan malaikat serta sorga dan neraka munculnya dari dalam hati.

Namun jika kita tidak mampu berdamai dengan diri sendiri atau bahkan ikut menebarkan api kebencian maka sesungguhnya kita termasuk pengkhianat dan penista dari ajaran semua Nabi.

Semboyan semua agama sesungguhnya hanya bisa dicapai dan dimulai dari berdamai dengan diri sendiri. Slogan “Rahmatan Lil Alamin” (menjadi rahmat bagi seluruh alam) dalam Islam, slogan “Menjadi Terang Bagi Dunia” dalam agama Nasrani ataupun doa “Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata” (Semoga Seluruh Makhluk Berbahagia) dalam agama Buddha ataupun salam Om Swastiastu dalam agama Hindu (Semoga semuanya dalam keadaan baik atas karunia Tuhan) sebenarnya hanyalah dampak dan perilaku yang hanya bisa muncul dari jiwa yang sudah mampu berdamai dengan diri sendiri ini.

Pertengkaran, perdebatan, perceraian, pembunuhan hingga peperangan hanya bisa terjadi karena kita belum bisa berdamai dengan diri sendiri. Konflik dan Perang Saudara di Suriah yang berkepanjangan dan telah memporak porandakan negara serta membuat jutaan rakyat menderita tidak akan pernah terjadi jika para politisi dan pemuka agamanya sudah mampu berdamai dengan diri mereka sendiri. Dan jika kita tidak ingin negara ini mengalami nasib yang sama maka marilah kita memulainya dengan belajar untuk bisa berdamai dengan diri sendiri.

Dalam Al Quran sendiri bahkan Tuhan telah berfirman : “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran atas diri mereka dan tiada pula mereka bersedih hati.” (Yunus: 62) “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridla lagi diridlai maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Al Fajr : 27-30). Dalam hadis juga dikatakan : “Barangsiapa yang tidak sayang kepada sesamanya maka tidaklah ia disayangi, dan barangsiapa yang tidak mengasihi sesamanya, tiadalah ia dikasihi oleh Allah.” (HR. Bukhari Muslim)

Berdamai dengan diri sendiri juga merupakan inti ajaran dari Nabi Isa Alaihissalam / Yesus Kristus dimana beliau pernah bersabda “Di mana hartamu berada di situ juga hatimu berada. Jika terang (roh / jiwa) yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” “Kasihanilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu, mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu, berdo’alah bagi orang yang mencaci kamu.”

Sang Buddha dalam kitab Dhammapada juga pernah bersabda : “Kebencian tak dapat dipadamkan dengan kebencian. Hanya sikap yang tidak membenci yang dapat mengakhirinya. Inilah hukum yang abadi.” “Bila seseorang memiliki pikiran cinta kasih, ia merasa kasihan kepada semua makhluk di dunia, yang ada di atas, di bawah, dan disekelilingnya, tak terbatas dimanapun”.

Shri Avatara Krishna dalam Bhagavad Gita juga pernah bersabda : “Pada mereka yang mampu menaklukkan sendirinya, membebaskan dirinya dari nafsu dan amarah, mengikat pikirannya, maka dekatlah Nirwana (surga / kebahagiaan tertinggi) itu padanya.” ”Mereka yang tiada menaruh benci pada sesama makhluk, ramah dan pengasih, tiada mempunyai keinginan dan ahamkara (egoisme, sifat mementingkan diri) dan murah mengampuni.”

Lao Tze dalam kitab Tao Tee Ching juga pernah bersabda : “Siapa yang dapat menaklukkan diri sendiri ialah orang yang besar kekuasaannya.” “Orang yang luhur budinya dapat menghilangkan sifat egoisnya karena dapat mengalahkan sang aku. Barangsiapa yang dapat melenyapkan sang aku bukan berarti kehilangan diri sendiri bahkan sebaliknya ia dapat menemukan diri sejati.” “Siapakah yang dapat menghentikan air yang keruh itu, maka di dalam diam dengan sendirinya akan menjadi jernih.”

Semoga kita semua mampu belajar dan berproses untuk menjadi individu yang mampu berdamai dengan diri kita sendiri sehingga dengan sendirinya akan tercipta lingkungan yang damai dan sejahtera baik di sekitar kita sendiri hingga bagi bangsa dan dunia.

sumber: catatan Muhammad Zazuli di Facebook

Komentar Netizen





baca juga: Pertolongan Tuhan Selalu Datang Tepat pada Waktunya!

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Spiritualitas