Cerita tentang Kunimi Youchien

Kunimi Youchien adalah sebuah TK di kota Sendai, tempat saya pernah kuliah dan bekerja sebagai peneliti. Kunimi itu nama sebuah distrik kecil, tak jauh dari Sanjomachi. Di Sanjomachi ini ada asrama untuk mahasiswa dan peneliti asing, milik Tohoku University. Di universitas inilah saya pernah belajar dan bekerja.

Mahasiswa asing di universitas ini yang terbanyak dari Cina dan Korea. Indonesia ada di urutan ketiga. Lalu ada mahasiswa dari berbagai negara, termasuk negara-negara muslim, seperti Iran, Pakistan, Bangladesh, Turki, dan sebagainya. Otomatis penghuni dormitory tadi juga datang dari berbagai negara.

Tidak sedikit dari mahasiswa dan peneliti itu membawa keluarga, termasuk anak-anak usia sekolah. Mereka menyekolahkan anak-anaknya di Kunimi. Tak jauh dari TK tadi juga ada SD, Kunimi Shogakko.

Tahun terakhir saya di Sendai, tahun 2006, anak saya usia TK. Saya masukkan di Kunimi Youchien. Setiap kelas ada saja siswa asing, dan sebagian dari mereka itu muslim. Menyadari hal itu, pihak sekolah melakukan beberapa penyesuaian.

Baca juga: Renungan: Ketika Sekolah Menjadi Kuburan

Sesekali sekolah melakukan acara masak bersama. Sadar soal pembatasan soal makanan, mereka meminta informasi, makanan apa saja yang tidak boleh dimakan. Suatu hari di sekolah anak saya mau masak kare Jepang. Setelah konsultasi dengan para orang tua asing yang muslim, akhirnya diputuskan untuk masak yasai kare, kari sayur, untuk menghindari penggunaan daging.

Ada pula acara masak yang melibatkan orang tua. Di kota itu ada tradisi masak dan makan di tepi kali, yang disebut imonikai, diselenggarakan pada musim gugur. Biasanya yang dimasak adalah daging babi. Kami, para orang tua siswa yang muslim, diminta menyediakan daging halal untuk kami sendiri, biayanya diganti oleh pihak sekolah.

Suatu hari ada acara pergi ke kuil. Kuil ini tentu saja tempat ibadah. Tapi orang Jepang lebih memperlakukannya seperti situs budaya. Mereka membawa anak-anak ke kuil untuk mengenal budaya mereka sendiri. Anak saya ikut. Ketika anak-anak Jepang itu diajari berdoa oleh gurunya, anak saya menirukan. Akidahnya rusak? Tidak. Anak saya tetap muslimah, dan pakai jilbab setelah ia remaja saat ini.

sumber: catatan Kang Hasan di Facebook

Dapatkan cerita-cerita seperti ini di buku “Minoritas Muslim di Jepang”. Pemesanan bisa dilakukan melalui WA +6281218160350. Seluruh hasil penjualan buku ini akan disumbangkan untuk beasiswa KAGAMA

Baac juga: Renungan Tentang Merasa Cukup

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Akhlak Mulia