Rendah Hati adalah Kunci Kedekatan pada Allah dan para HambaNya

Allah, Tuhan Yang Maha Suci, hanya bisa didekati oleh jiwa-jiwa suci, yang tanpa merasa suci. Jiwa yang suci adalah jiwa yang bersih dari segala macam penyakit hati dan syahwat-syahwat duniawi. Adapun kotoran jiwa yang amat samar dan tersembunyi adalah merasa telah suci dan karenanya merasa telah menjadi manusia pilihan, yakni manusia yang merasa dekat dengan Allah.

Rendah Hati adalah Kunci Kedekatan pada Allah

Rendah Hati adalah Kunci Kedekatan pada Allah

Rendah Hati adalah Kunci Kedekatan pada Allah dan para HambaNya

Kedekatan manusia kepada Allah itu bukanlah karena amal perbuatan baik manusia itu sendiri, melainkan karena adanya anugerah dan pertolongan dari Allah kepada para hamba-Nya yang terpilih. Jadi, karena adanya kasih sayang Allah sajalah manusia bisa beramal baik sehingga ia bisa mendekatkan diri kepada-Nya. Maka, bersandarlah kepada kasih sayang (rahmat) Allah dan bukan merasa bisa selamat dari-Nya karena amal perbuatan baik yang kita lakukan.

Baca juga: Ahok dan Habib Rizieg adalah Guru Kehidupan Kita

Pembersihan hati dari berbagai penyakitnya harus terus berlangsung selamanya dengan penuh perjuangan (mujahadah) dan itu tanpa diringi rasa berputus asa dari rasa ingin untuk meraih rahmat-Nya. Kemalasan, kebosanan dan rasa putus asa dari rahmat-Nya adalah sikap mental yang tercela. Kehilangan harapan dari-Nya adalah kehilangan segalanya. Inilah hakikat godaan syetan yang terkutuk itu.

Manusia sebagai hamba Allah tidak boleh berputus asa dari rasa ingin memeroleh kasih sayang-Nya. Sebagai manusia, ia tidak boleh mengandalkan bahwa amal baiknya itu terwujud karena potensi mutlak dari dirinya sendiri.

Karena jika demikian, maka manusia itu terjebak dalam ilusi, yakni telah merasa menjadi manusia suci yang karenanya ia menjadi mudah menyalahkan siapa saja yang dianggapnya kotor dan rusak.

Ia tertipu oleh perasaannya sendiri, seolah ia telah dipilih oleh Allah sebagai pemegang otoritas kebenaran mutlak yang menjadi satu-satunya penyeru manusia lain ke jalan Allah (ad-da’i ilallah), padahal ia tidak lebih dari seorang hakim yang dengan mudah menjatuhkan vonis kepada terdakwa atau minimal memberikan stigma buruk kepada setiap orang “kotor” yang dimusuhinya.

Selalu berupaya untuk dekat kepada Allah dengan cara berjuang keras tanpa berputus asa untuk meraih kasih sayang (rahmat)-Nya itu akan melahirkan jiwa yang selalu berendah hati (tawadlu’), tidak sombong, di hadapan setiap makhluk-Nya di muka bumi ini.

Karena rasa ingin tersebut diiringi harap-harap cemas dan rasa takut secara berimbang. Ada keinginan untuk mendekati-Nya dengan tanpa malas, tanpa bosan dan tanpa kenal lelah terus diperjuangkan sambil mengharap petunjuk dan pertolongan-Nya dan merasa takut jika terjadi yang sebaliknya, menjadi manusia sombong dan durhaka kepada Sang Pencipta.

Baca juga: Beragama & Cepat Tersinggung

Seperti Iblis terlaknat yang merasa lebih baik dan merasa lebih mulia dari manusia, maka manusia yang menyesaki jiwanya dengan kesombongan adalah manusia yang pada hakikatnya jauh dari kasih sayang Allah.

Manusia yang jauh dari sifat rendah hati (tawadlu’) itu adalah manusia yang hanya mengandalkan amal baiknya kepada potensi dirinya sendiri, sehingga ia merasa lebih hebat dari orang lain atas apa saja yang pada hakikatnya merupakan anugerah Allah kepadanya, yakni manusia yang merasa suci, merasa benar sendiri, merasa menjadi kekasih Allah, merasa aman dari murka-Nya dan mudah putus asa dari memeroleh rahmat-Nya.

sumber: catatan Ahmad Ishomuddin di Facebook

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Spiritualitas