Ahok dan Habib Rizieg adalah Guru Kehidupan Kita

Mengapa kita membenci salah satunya? bukannya keduanya diciptakan oleh Tuhan yang kita sembah setiap saat. Apakah dengan membenci salah satunya, kesucian kita akan meningkat?

foto ini adalah hasil editan yang saya ada ambil dari internet, namun saya berharap peristiwa ini terjadi segera (Gobind Vashdev)

Ahok dan Habib Rizieg adalah Guru Kehidupan Kita

Mari lihat lebih dalam daripada sekedar perbedaan kosmetika yang kita ribut kan selama ini. Melihat lebih dalam adalah melihat kerajaan Allah yang ada di dalam diri seseorang, ketika kita menghujat seseorang itu artinya kita juga menghujat sang pencipta yang lebih dekat dari urat leher orang tersebut.

Seperti Yin dan yang, Rama dan Rahwana, Buddha dan Mara , mereka tercipta berseberangan namun untuk sebuah tujuan yang mulia.

Selain saling melengkapi, keduanya adalah sarana kita berlatih ikhlas pada kedua sisi berlawanan yang ada dalam diri kita semua.

Sadari, apakah Ahok ingin dilahirkan di keluarga China dan Habib di keluarga Arab? Siapa yang memutuskan Habib Rizieq lahir di keluarga beragama Islam dan Ahok Kristen? Apakah mereka dengan kekuatan sendiri mampu memilih untuk lahir di Indonesia ?

Sebaliknya , kalau dulunya saya lahir di keluarga dengan agama dan ras yang berbeda dengan yang saat ini melekat di diri saya, apakah saya akan tetap membela orang yang yang saya bela saat ini?

Tatkala kita mau merenungkan dan menyadari semua ini, beranikan diri ajukan pertanyaan:

“jadi sebenarnya siapa yang saya benci?”

Ketika matahari bersinar dan udara sejuk menerpa, kita sering mengagungkan agama yang kita pilih, menyebutnya sebagai berkah bagi semesta dan bersaksi bahwa diri ini menjadi lebih welas asih dan sabar berkat ajaran-ajaran agama tersebut.

Namun ketika malam kelam ditambah suasana panas dan gaduh, dikala ujian dan tantangan hadir, manusia sering mengutuk, menghakimi, dan menyalahkan yang lain sebagai penyebab kekacauan yang terjadi.

  • Apakah dengan mengutuk kegelapan, terang akan hadir ?
  • Apakah dengan membenci panas, rasa panas akan hilang ?
  • Apakah marah dengan gaduh akan membuat suasana menjadi damai?
  • Apakah dengan mengatakan serigala berbulu domba pada Habib , Tuhan akan tersenyum?
  • Apakah dengan mengklaim airmata yang keluar adalah air mata buaya, dosa kita akan berkurang?

Jika tidak, mengapa kita tidak belajar dan berlatih dikesempatan berharga ini?
Belajar memaafkan , belajar mengurangi penghakiman dan juga berlatih melepas kebencian.

Dan disisi lain, sadari juga bahwa Ahok atau Habib Rizieq yang salah satunya mungkin Anda benci belum tentu membenci Anda.

Bagi saya , kedua orang tersebut adalah Guru kehidupan yang sedang menjalankan peran yang diberikan Pencipta.
Saya yakin tugas yang mereka hadapi jauh lebih berat dibanding mereka yang hanya mencomot dari media dan menghakimi dengan komentar-komentar miring.

Tentu tidak salah kita mendukung salah satunya, namun dukungan itu akan menjadi indah bila kita tidak menambahkan kebencian pada pada yang lain.

Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudara dalam kemanusiaan (Imam Ali bin Abi Thalib)

sumber: catatan Gobind Vashdev di Facebook

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Spiritualitas