Renungan: Ketika Sekolah Menjadi Kuburan

Saya bersyukur karena bisa mengubah nasib saya. Saya lahir dan tumbuh dari keluarga miskin, dari kampung terpencil. Dengan sekolah saya beserta saudara-saudara saya bisa mendapatkan pekerjaan yang bisa membuat kami terbebas dari kemiskinan. Bahkan melalui sekolah saya bisa menimba pengalaman sekolah dan bekerja di luar negeri. 

Renungan: Ketika Sekolah Menjadi Kuburan

Renungan: Ketika Sekolah Menjadi Kuburan

Renungan: Ketika Sekolah Menjadi Kuburan

Sebenarnya saya pernah frustrasi dengan sekolah. Itu terjadi saat saya duduk di kelas 1 SMA. Pelajaran sekolah, khususnya fisika sangat sulit dipahami. Saya merasa jadi anak bodoh karena tak kunjung paham mata pelajaran yang dulu saya senangi, dan hampir putus asa.

Untunglah tak lama kemudian guru fisika saya berganti. Guru baru itu mengajar dengan cara menarik sehingga saya menjadi lebih mudah dalam memahami pelajaran. Demikian pula halnya dengan pelajaran matematika.

Baca juga: 100 Kata Mutiara Motivasi Pendidikan Terbaik

Saya termasuk yang beruntung berhasil menemukan jati diri saya di sekolah. Saya mengenal sisi unggul dalam diri saya, kemudian melanjutkan pendidikan dan bekerja sesuai jati diri itu.

Tapi ada banyak teman saya yang tidak demikian. Mereka tak kunjung menemukan titik unggul yang mereka miliki. Selama sekolah mereka hanya bisa berpasrah diri, menerima kenyataan sebagai anak yang biasa-biasa saja, di tengah segelintir anak yang mendapat julukan anak cerdas.

Bahkan ada yang lebih parah. Ada banyak anak-anak berbakat di bidang seni, olah raga, atau enterpreneur, yang harus menerima diperlakukan sebagai anak biasa-biasa, tanpa bakat istimewa. Karena yang biasanya dianggap pintar hanyalah anak-anak yang menonjol dalam bidang matematika, IPA, dan bahasa Inggris.

Saya menyaksikan anak-anak cerdas di bidang musik, seni lukis, dan sebagainya dipaksa menerima kenyataan bahwa nilai tinggi untuk mata pelajaran tersebut bahkan tidak cukup untuk membuat mereka bisa naik kelas.

Mereka dipaksa untuk mengakui bahwa diri mereka bodoh. Lama-lama mereka membiasakan diri untuk melupakan bakat hebat yang mereka miliki, kemudian menghayati diri sebagai manusia biasa-biasa saja, tanpa kelebihan apapun.

Sekolah kita tentu saja banyak menghasilkan orang-orang seperti saya, yang bisa mengubah nasib, keluar dari kemiskinan. Tapi sekolah kita juga sering menjadi kuburan bagi sejumlah orang berbakat.

Pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang mengenal diri dan keunggulan mereka, untuk menjadi bekal dalam mengarungi hidup.

sumber: catatan Kang Hasan di Facebook

Baca juga: Renungan Tentang Pendidikan Keluarga

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Akhlak Mulia