Renungan Tentang Memaafkan

Hari senin Lawyer dan agent saya dari Hong kong datang ke Jakarta. Mereka minta saya menanda tangani dokumen berkaitan dengan kasus yang sudah saya menangi sejak beberapa bulan lalu. Entah kebetulan, lawan saya yang berperkara di Hong Kong juga ada di Indonesia. 

Renungan Tentang Memaafkan

Renungan Tentang Memaafkan

Renungan Tentang Memaafkan

Dia minta ketemu dengan saya. Saya menyanggupi. Lawyer saya menasehati saya agar sebaiknya tidak menemui dia. Karena akalnya banyak sekali dan target nya memang satu yaitu menghancurkan saya. Saya tetap bersikukuh untuk menerima ke datangannya.

Ketika dia datang, agent dan lawyer saya nampak geram. Saya tetap tenang. Dia menyalami saya dengan kaku. Saya menyambutnya dengan senyum. Entah mengapa ketika saya memeluknya, dia nampak ragu, namun segera membalas pelukan hangat saya dengan melingkarkan tangannya.

Setelah itu, dia mengatakan bahwa ke datangannya sebetulnya hanya ingin menegaskan bahwa dia akan melanjutkan perkara ini . Dia akan banding bila perlu sampai ke mahkamah international.” Tapi ketika kamu memeluk saya dengan hangat, saya merasakan kamu bukan orang yang pantas di lawan, bukan seharusnya jadi musuh. Maafkan saya.” Katanya.

Baca juga: Belajar dari Gus Mus: Memaafkan itu Indah!

“Setelah apa yang saya lakukan dengan kamu, tapi kamu tidak nampak sedikitpun merasa dendam dengan saya. Kamu dengan mudah melupakannya. Padahal semua saya rencanakan dengan baik untuk kamu jadi pecundang.

Dua tahun perlawanan di pengadilan, tentu ongkos yang tak murah yang harus kamu bayar, tapi kamu tetap tenang menghadapinya sampai kamu menang, Setelah itu kamu tetap seperti dulu sebelum kita berperkara. Pelukan kamu sama tak berubah. Senyummu tak berkurang.” Katanya.

Dengan tersenyum saya katakan bahwa jiwa kemanusiaan saya tidak akan berkurang kepada siapapun walau dalam posisi berperang sekalipun. Soal perbedaan sikap kita dalam bisnis sampai kita masuk ke pengadilan, itu biasa saja. Kita lewati proses itu.

Bagi saya tidak ada kemenangan yang sejati kecuali saya bisa memaafkan kamu dan kamu kembali menjadi sahabat saya. Tidak ada peperangan yang harus di menangkan di medan bisnis,apalagi hukum dunia.

Peperangan kita adalah menaklukan diri kita sendiri untuk berdamai dengan kenyataan tanpa ada benci atau dendam, memaafkan itu indah dan menyehatkan spiritual kita.. Dia kembali memeluk saya.. ” Terimakasih menerima kembali saya sebagai sahabat…

Pahamkan sayang?

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Akhlak Mulia