Cerpen: Mak Aku nak Berjihad

Kasur di kamar kosku tak lagi nyaman. Tak ada yang salah dengan kasur itu. Ia masih tetap kasur yang sama, kasur yang kubeli enam bulan yang lalu saat aku baru tiba di Yogya. Namun aku tak bisa lagi tidur nyenyak di atasnya. Aku takut mati ketika sedang tidur, sebuah kematian yang sia-sia. 

Mak Aku nak Berjihad

Satu dua bulan belakangan ini aku baru disadarkan pada suatu hal, bahwa selama ini aku tak paham Islam. Pun selama ini aku tak mengamalkannya dengan baik. Memang aku bukan santri, tapi aku punya sedikit pengetahuan tentang Islam, dari hasil belajar di madrasah tsanawiyah dulu.

Cukup banyak yang aku tahu, dan itulah yang aku amalkan. Aku tak pernah tinggalkan salat wajib, lalu kutambah pula dengan salat-salat sunat. Akupun selalu puasa, wajib maupun sunat. Aku juga salat malam.

Aku pikir itu semua cukup membuatku jadi muslim sejati, hamba Allah, sampai aku tiba di Yogya. Saat aku dinyatakan lulus masuk UGM dan bersiap berangkat ke Yogya, abangku berpesan, “Jangan habiskan waktu bertahun-tahun hanya di bangku kuliah. Yogya itu gudang intelektual. Gunakan kesempatan untuk belajar banyak hal.”

Aku paham betul maksud abangku itu. Selama aku SMA, aku merasakan betul kekecewaan dia. Dia aktivis Pemuda Muhammadiyah. Dia sangat berharap aku ikut dia dalam berbagai kegiatan pengajian dan dakwah. Tapi aku tak pernah mematuhinya. Aku lebih suka berkumpul dengan teman-temanku anak-anak nakal, menemani mereka mabuk atau kebut-kebutan dengan sepeda motor, meski aku sendiri tak pernah ikut minum.

Anjuran abangku tadi aku iyakan secara lisan dan di dalam hati. Bagiku sudah cukup aku main-main bersama anak-anak nakal itu. Cukup mendapat pengalaman, dan aku sadar tak banyak faedah yang kudapat dari mereka. Aku mau belajar serius mempersiapkan masa depanku.

Tak lama setelah tiba di Yogya aku mulai ikut berbagai kajian dan diskusi. Aku rajin melihat papan pengumuman di kampus, mencari informasi kegiatan kajian. Banyak jenis kajian. Ada yang dilakukan di dalam kampus, di mushala, ruang kelas, atau di gelanggang mahasiswa.

Ada juga kajian-kajian di masjid-mesjid di sekitar kampus. Banyak hal baru yang kudapat dari situ. Terasa benar bahwa lingkup kajian Islam itu begitu luas. Mulai kusadari bahwa seorang muslim tidak cukup hanya beribadah dan menjadi orang baik. Ia harus jadi pejuang yang memperjuangkan tegaknya nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat. Dalam kajian, itu disebut jihad.

Tema jihad ini kemudian secara khusus segera menarik perhatianku. Waktu di madrasah aku belajar sejarah Islam. Aku tahu cerita peperangan yang dilakukan nabi bersama para sahabat. Tapi aku membacanya sebagai cerita masa lalu, Dalam kajian-kajian kini, sejarah itu dihadirkan lagi, bukan sebagai cerita, tapi sebagai teladan.

“Rasulullah itu contoh teladan dalam segala hal. Apa yang beliau lakukan selama berdakwah dan berjihad di Mekah dan Madinah adalah sunnah yang harus kita ikuti. Bukan sekedar cerita yang dianggap dongeng.” kata seorang ustaz dalam suatu ceramah.

Dua tiga bulan menghadiri berbagai kajian aku berkenalan dengan banyak orang. Beberapa di antaranya jadi teman akrab. Salah seorang dari mereka mengajakku ikut halaqah, pengajian yang lebih intensif. Aku setuju. Seminggu sekali kami berkumpul di rumah seorang ustaz lepas salat isya, melakukan kajian. Materi kajian lebih fokus, pada kewajiban berdakwah dan berjihad. Kini semakin jelas bahwa jihad bukan saja penting, tapi sebenarnya wajib.

“Apakah kalian mengira akan masuk surga? Padahal Allah tidak mengetahui ada yang berjihad di antara kamu.” kata ustaz mengutip ayat, dalam suatu kajian. “Jangan dikira kalau sudah salat, puasa, zakat, haji, lantas kita masuk surga. Tidak. Itu jauh dari cukup. Surga itu harus dibeli. Dengan apa? Dengan jiwa, dan harta kita. Allah telah membeli jiwa dan harta kaum mukmin, menukarnya dengan surga.”

Pada saat yang sama, di belahan dunia yang lain terjadi huru hara. Perang panas berlangsung di Afganistan dan Palestina. Di dua negeri itu umat Islam dizalimi oleh kaum kafir. Uni Soviet menganeksasi Afganistan, membawa ribuan tentara dan senjata, menghancurkan negeri itu.

Setiap hari TVRI memberitakannya melalui Dunia Dalam Berita. Tentara Soviet dengan bengis menjatuhkan bom-bom pembunuh ke kampung-kampung, membunuhi sebagain penduduknya, melukai sebagian yang lain. Gambar-gambar bergerak tentang anak-anak yang cacat, mengobarkan amarah yang tak terbendung.

Mujahidin Afganistan tak tinggal diam, mereka melawan. Dengan senjata seadanya mereka memukul balik, membuat tentara kafir Soviet babak belur. Demikian pula di Palestina. Meski para pejuang PLO sudah dilucuti habis-habisan, perjuangan tak berakhir. Hamas berhasil menggerakkan perlawanan Intifadah, di mana anak-anak muda Palestina diajak melawan tentara Israel dengan lemparan batu. Dengan itupun tentara Israel kewalahan.

Tapi kenapa mereka berjuang sendiri? Ke mana saudara-saudara mereka? Ada dua milyar kaum muslim di dunia ini, mengapa tidak membantu? Sungguh tepat sindiran sebuah syair nasyid yang sering aku dengar.

Afghanistan, ardhul iman
Wa muslimu naam
Wa islama

(Afganistan, bumi iman)
(Dan kaum muslim tertidur)
(Islam yang malang)

Di tengah perjuangan keras orang-orang Afganistan dan Palestina, sebagian umat Islam memang seperti tertidur, tak tergerak untuk membantu. Kalaupun ada, itu hanya bantuan ala kadarnya. Dan aku adalah bagian dari kaum muslimin yang tidur itu. Aku tidur nyenyak di atas kasur empuk, sementara saudara-saudaraku meregang nyawa di tangan kaum kafir. Muslim macam apa aku ini? Aku jadi sungguh tertekan dan hina karenanya. Ya Allah, janganlah Engkau panggil aku pulang dalam keadaan hina seperti ini.

“Tidaklah sama seorang qa’id (orang yang duduk berdiam), selain orang-orang yang uzur, dengan mujahid yang berjuang di jalan Allah dengan diri dan harta mereka.” Itu bunyi suatu ayat. Ayat itu jauh lebih menusuk daripada nasyid tadi. Aku ini qa’id, orang yang hanya duduk berdiam, tidak mau berjihad.

Halaqah kami tidak hanya berisi kajian seminggu sekali. Sesekali kami melakukan mabid, menginap semalam di rumah ustaz. Kami melakukan kajian-kajian sampai tengah malam, juga menjalankan salat malam. “Salat malam itu penting untuk tazkiyatun nafs, penyucian diri.” kata ustaz berpesan.

Tak cuma itu. Kami pergi berkemah ke Magelang, berpura-pura jadi sekelompok anak muda pecinta alam. Di situ kami digembleng dengan berbagai latihan fisik. Ustaz terjun langsung menggembleng kami.

“Mukmin yang kuat lebih disukai Allah disbanding muslim yang lemah.” kata ustaz menyemangati. Tak hanya itu. “Kita ini akan jadi mujahid. Bayangkan, mungkinkah kita memanggul senjata, mendaki bukit, untuk pergi menyerang musuh, kalau badan kita lemah? Mungkin kita hanya akan mati tertimpa senjata yang kita panggul.” tambahnya. Kami jadi lebih bersemangat, meski keringat bercucuran, napas tersengal, bahkan beberapa peserta ada yang sampai muntah-muntah.

Latihan fisik di Magelang itu memberiku gagasan baru, bahwa jihad bukan lagi wacana pengajian. Jihad adalah amal nyata yang harus diwujudkan. Aku akan melepas status qa’id, aku akan menjadi mujahid. Aku akan pergi berperang menjadi jundullah, tentara Allah. Aku akan membela agama Allah, menegakkan kalimah Allah di muka bumi. Allahu akbar! Aku sungguh bergairah dengan gagasan itu.

Kusampaikan gagasan itu ke ustaz. Aku ingin pergi Afganistan, menjadi bagian dari pasukan mujahidin, berperang di sana. Ustaz menyambut baik niatku itu.

“Alhamdulillah.” katanya.

“Apakah memungkin saya pergi ke Afganistan?”

“Iya, bisa kita atur. Sebenarnya selama ini sudah banyak ikhwan yang pergi berjuang ke sana. Semua kita fasilitasi.”

Sebenarnya secara fisik saya belum siap. Saya juga tak punya ketrampilan militer.”

“Itu pun bukan masalah. Nanti kamu akan dilatih. Sementara itu kamu akan ditempatkan di garis belakang dulu.”

Subhanallah. Bergemuruh dadaku. Sebentar lagi aku akan jadi mujahid, bergabung bersama orang-orang yang selama ini hanya kusaksikan di layar TV. Aku tak lagi pada kuliah, tujuan awal kedatanganku ke Yogya. Kuliah tak penting, karena hanya bertujuan mengejar kenikmatan dunia.

Padahal kenikmatan akhirat yang menantiku di Afganistan lebih utama. Kuikuti tahap pertama persiapan berangkat ke Afganistan. Kulengkapi dokumen yang diperlukan untuk pembuatan paspor. Semua diurus oleh ustaz melalui jaringan dia, jadi aku tak perlu melakukan apa-apa lagi. “Begitu paspormu jadi, kamu bisa segera berangkat.” kata ustaz yakin.

Di tengah gairah itu aku teringat pada Emak dan saudara-saudaraku. Perlukah aku beritahu mereka? Sudah kubayangkan, kalau kuberi tahu, mereka pasti akan keberatan. Sebaliknya, tak masuk akal rasanya bila aku pergi ke Afganistan tanpa pamit sama sekali. Aku bimbang. Kutanyakan hal itu pada ustaz.

“Sebaiknya kau pergi berpamitan, khususnya meminta ridha ibumu.” nasihatnya. “Tapi ingat, itu tidak wajib. Kamu adalah laki-laki dewasa yang punya tanggung jawab penuh atas dirinya sendiri.”

“Tapi mereka pasti akan keberatan.”

Ustaz tersenyum.

“Itu pasti. Tapi kamu tahu apa kata Allah tentang ini. Bila bapakmu, ibumu, saudaramu, hartamu, lebih kau utamakan daripada jihad, maka tunggulah balasan dari Allah. Jadi, bila pun mereka keberatan, kau sudah tahu bagaimana jawabannya.”

Pada kesempatan libur akhir tahun ajaran, aku pulang ke kampong untuk berpamitan. Seperti dugaanku, semua orang keberatan. Abang-abangku marah-marah, kakak-kakakku menangis. Mereka tak membayangkan adiknya yang cerdas, yang diharapkan mendapat gelar sarjana di universitas terkemuka akan pergi ke medan perang. Boleh jadi dia akan mati di sana.

Kakak-kakakku kuabaikan. Mereka hanya ibu-ibu rumah tangga yang tak punya pengetahuan apa-apa. Aku hanya perlu meyakinkan abang-abangku. Tak sulit sebenarnya. Dua abangku adalah aktivis Muhammadiyah. Mereka paham agama, walau belum tercerahkan macam aku. Kubanjiri mereka dengan ayat-ayat jihad yang sudah mendarah daging dalam diriku.

“Macam mana? Masih mau mengatakan jihad itu tidak wajib?” tanyaku menantang, setelah hampir satu jam kuhabiskan untuk menceramahi dua abangku. Mereka diam. Aku tahu mereka tak akan sanggup berdalil melawanku.

“Sudah terlalu lama kita mengaji Quran tanpa pernah tahu makna kandungannya. Sudah terlalu lama kita tahu kandungan Quran, tapi mengabaikannya. Setidaknya, kalau abang berdua tak hendak pergi berjihad, demi Allah, jangan halangi aku.” kataku tegas. “

Aku akan pergi berjihad. Jangan sedihkan kepergianku. Jangan sesali kalau aku mati di medan jihad. Insya Allah, aku akan mati dalam kemuliaan. Bila Allah tak menghendaki aku mati syahid, aku akan kembali ke sini setelah perang aku menangkan. Tak ada yang perlu ditakutkan. Semua pilihan yang tersedia buatku adalah pilihan mulia. Lagipula, kita semua ini akan mati. Di tempat tidur pun kita akan mati.”

Mereka tak bisa bersuara lagi. Kini tinggal mendengar apa kata Emak. Emak dari tadi tak bersuara. Ia pun tak menangis seperti kakak-kakakku. Dia hanya menatapku dengan pandangan lembut.

Lalu Emak berkata dengan pelan.

“Betul. Setiap orang akan mati. Yang tidur di atas kasur empuk akan mati, yang berperang pun akan mati. Bahkan kita tak tahu siapa yang mati dahulu. Boleh jadi yang tidur nyaman di atas kasur empuk akan mati lebih dahulu daripada yang sedang bertempur di medan perang. Jadi, bukan mati sebab keberatan Emak. Emak hanya merasa muskil. Kalau Allah menghendaki engkau berjihad di Afganistan, kenapa Dia menempatkan engkau di rahimku? Rasanya itu pilihan tak cerdik. Macam kita menyemai benih di pulau seberang sana, padahal kita berumah di sini.”

Emak bicara dengan lembut dan pelan. Kata-katanya bermakna begitu dalam dan menusuk. Terlebih pada pengingat bahwa aku lahir dari rahimnya. Bagian ini nyaris tak pernah menyentuh kesadaranku ketika aku berpikir tentang jihad. Tapi bagaimanapun juga, Emak berniat menghalangi aku, jadi harus aku sanggah. Agak tergagap sebentar, aku siap menyampaikan sanggahan. Tapi sebelum aku sempat berkata, Emak sudah mendahului.

“Emak nak tanya satu hal. Ustaz yang mengajarimu tentang jihad, akan berangkat juga kah bersamamu?”

“Eh…. Tidak.”

Lalu aku tak mampu berkata-kata lagi di bawah sorot mata Emak yang begitu lembut.

Mak Aku nak Berjihad

adalah sebuah cerita pendek yg ditulis oleh Kang Hasan di Facebook. 

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Spiritualitas