Syiar Agama Hanya Efektif Melalui Akhlak!

“Tahukah kamu”, katanya ” bahwa aku memiliki segala galanya sebagai standard kelas menengah. Aku punya credit card tanpa limit tapi aku tak bisa bebas makan apapun karena takut penyakit. Aku punya rumah dimana mana tapi aku lebih banyak tidur di hotel. Aku punya banyak teman pria tapi sampai kini aku tidak punya suami. Aku member priority banking dilima bank terkemuka didunia tapi aku takut berbagi karena selalu curiga kepada siapapun yang minta tolong.

Apa yang kudapat? Dia menggeleng gelengkan kepala tanda menyesali dirinya. Saya hanya diam untuk menjadi pendengar yang baik. Di pandangnya saya sejurus dan kemudian berkata bahwa dia ingat akan nasehat saya dulu. Bahwa At the end of the day, it’s not what I learned but what I taught, not what I got but what I gave, not what I did but what I helped another achieve that will make a difference in someone’s life….and mine.

Tapi untuk bisa sampai pada pemahaman seperti itu tidak mudah. Ternyata benarlah bahwa manusia butuh pengetahuan spiritual untuk memperkaya hatinya sehingga melembut untuk bersikap bijak yang kadang bertolak belakang dengan akal. Dia harus memahami awal agar dia sampai pada ahirnya yang benar. Tapi bagaimana ? dari mana mengawalinya itu ?

Baca juga: Belajar dari Gus Mus: Memaafkan itu Indah

Surti lah yang membuka pintu baginya mengawali langkah. Siapa Surti ? dia adalah wanita yang bekerja di apartement nya di Hong Kong. Surti hanyalah PRT tapi sangat kaya hatinya sehingga membuat dia merasa rendah dihadapan PRT nya sendiri.

Mengapa sampai dia berpikir seperti itu. Awalnya dia melarang keras Surti untuk melaksanakan ritual sholat dirumahnya. Dia inginkan Surti tidak membuang waktu selama bekerja dengannya. Karena dia membayar Surti tidak murah. Dia ingin mendapatkan yang terbaik. Bahkan tak terbilang dia menghina agama Surti sebagai penyebab kemalasan dan kemunduran.

Surti hanya diam tanpa berkata ya atau tidak. Suatu hari dia marah besar ketika mendapati Surti sedang sholat di Kamar Mandi sementara dia sangat membutukan bantuan Surti. Kemarahannya itu membuatnya mendorong Surti dalam keadaan sholat sehingga jatuh dan berdarah keningnya. Surti tidak marah dengan kejadian itu. Bahkan Surti minta maaf karena lambat melaksanakan perintahnya.

Tapi yang membuat dia tersentuh dan akhirnya luluh adalah apa yang dikatakan Surti ” Ibu boleh kuasai raga saya karena ibu membayar saya tapi ibu tidak akan pernah menguasai jiwa saya. Karena jiwa saya pemiliknya adalah Tuhan. Walau karena prinsip ini jasad saya harus berpisah dengan jiwa saya. Saya akan terima dengan ikhlas. Ibu hina agama dan Tuhan saya , itu urusan Ibu. Itu bukan urusan saya, Itu antara Ibu dengan Tuhan.”

Baca juga: Islam yg Lembut…

Dia perhatikan , Surti adalah wanita desa yang tidak berpendidikan tinggi tapi mempunyai hati untuk mencintai dan berkorban untuk itu. Surti bahagia dengan pilihan hidupnya tanpa ada pikiran menyalahkan siapapun. Dia kuat karena dia mensyukuri takdirnya.

Dia tak bisa berhenti berpikir tentang kata kata Surti. Setiap hari kata kata Surti selalu terngiang ditelinganya. Dia gelisah. Dia merasa kecil dihadapan seorang pembatu yang justru merasa sangat bahagia dengan hidupnya. Sementara dia tak pernah menemukan kebahagiaan.

Suatu malam dia mendengar suara halus dibalik kamar Surti. Terasa ada getaran aneh. Dia merasa tentram dengan lantunan suara itu. Begitu merdunya. Dia tergerak untuk merapatkan telinganya kedinding kamar itu.

Oh..merdu sekali bang..anehnya aku sampai menangis..” Katanya. Dia mengetuk pintu kamar. Surti keluar dengan berpakain berbalut putih. Surti tersenyum. Indah sekali senyum itu. Wajahnya bercahaya. Surti mengatakan bahwa dia membaca Kitab Suci.

Entah mengapa dia memeluk Surti.” Setiap usai sholat saya mendoakan agar ibu dapat hidayah Allah. “Kata Surti berbisik.
” Kamu tidak membenciku?”
” Tidak, dan tidak akan pernah. Saya mencintai Ibu, karena begitulah Agama saya mendidik untuk mencintai semua mahkluk.”
” Kini tuntun aku untuk memeluk agamamu. Sedari kecil aku tidak kenal agama…”

Moral cerita: syiar agama hanya efektif melalui AKHLAK bagi pemeluknya. Bukan hanya mencintai orang baik dan sholeh tapi juga yang membenci dan jahat.

Baca juga: Renungan tentang Kesederhanaan Wanita

Batu bisa hancur karena air yang menetes tak henti. Perubahan peradaban yang di rahmati ALlah bukan karena dakwah teriak marah dan prasangka buruk tapi akhlak penuh maaf dan cinta yang tiada henti di tebarkan dengan kesabaran tinggi.

Bukankah orang sabar itu bersama Tuhan. Jangan jauhi Tuhan karena kesabaran habis dan memaksakan kehendak seperti kita mau. Karena pada akhirnya yang paling benar adalah apa yang terjadi. Baik atau buruk itu adalah cobaan dari Allah..

Pahamkan sayang?

cerita dari seorang teman pada Erizeli Jely Bandaro

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Akhlak Mulia