Sekelumit Cerita Tentang Membela Kebenaran

Ada cerita teman di China. Seorang wanita lajang, guru sekolah Dasar harus menghadapi pengadilan publik sebelum dia berhadapan hukum negara. Apa pasalnya ? karena dia menolak penggusuran sekolah oleh developer untuk di bangun kawasan komersial. 

Tentang Membela Kebenaran

Setiap ada kesempatan dia datangi rumah orang tua murid agar memberikan dukungan. Dia sadar bahwa tanah sekolah itu milik negara namun cara cara pengambil alihan itu tidak sesuai dengan aturan Hukum. Tapi semua orang tua murid takut. Karena kawatir dianggap melawan idiolgi partai Komunis. Maklum developer di dampingi pejabat partai dalam aksi pemaksaannya.

Wanita itu mencerahkan kepada semua orang ” Kalau negara akan menggusur sekolah ini, kita semua harus patuh.Tapi kalau ada pengusaha memaksa kita merelakan lahan sekolah di gusur, itu harus di lawan. Walau karena itu pengusaha di dampingi pejabat partai. Jangan mau di bohongi orang pakai idiologi partai ”

Karena kata katanya itulah , pengusaha marah, dan memprovokasi pejabat lokal partai bahwa guru sekolah itu telah menghina partai. Namun guru sekolah itu tidak peduli. Dia tetap memberikan pencerahan kepada siapa saja tentang hak hak yang harus di perjuangkan.

Baca juga: Kesepakatan vs Kebenaran dan Pengertian

Pejabat lokal partai mulai gerah dan menggunakan keahlian propagandanya untuk menggiring kader partai di seluruh desa menjadikan guru sekolah itu pesakitan. Entah darimana orang banyak datang melakukan demo ke balaikota agar guru sekolah itu di hukum karena telah menghina partai.

Pejabat kota dalam posisi sulit untuk menghukum guru sekolah itu. Karena guru itu tidak punya kesalahan apapun kecuali karena dia memprovokasi orang banyak jangan patuh kepada oknum partai. TIdak ada satupun kata kata guru sekolah itu menghina negara. Hanya oknum yang di permasalahkan. Namun gelombang demo yang tiada henti, akhirnya Polisi terpaksa menahan guru sekolah itu dengan tuduhan menghina Partai atau negara.

Di hadapan hakim tunggal, Guru sekolah itu tanpa rasa takut siap di adili.

” Saya hanya punya dua pilhan untuk kamu” Kata hakim ” pertama, membebaskan kamu karena memang kamu tidak terbukti menghina partai atau negara. Namun orang banyak terutama kader partai akan menilai pemerintah kalah dengan seorang guru sekolah. Kedua,menghukum kamu tapi sekolah itu tidak di jadi di gusur karena secara hukum memang pejabat kota belum memberikan otoritas kepada pengembang.”Sambung hakim.

Guru sekolah itu terdiam sambil memperhatikan kelanjutan kata kata Hakim.

” Pertanyaan saya , mana yang kamu pilih?
” Demi sekolah dan kebenaran , hukumlah saya. Saya siap menerima”
” Kamu tahu, bahwa hukuman menghina partai adalah hukuman mati.”
‘ Itu lebih baik bagi saya. Apalah arti kehidupan bila kebenaran harus di korbankan. ” Kata wanita itu dengan tegas…

Ketika menuju regu tembak, guru sekolah seorang wanita itu tidak nampak takut. Dia tersenyum. ” Saya tidak pernah menghina negara. Tidak pernah. Saya tidak hendak menghalangi orang kaya. Tidak mencuri dari apapun. Saya hanya ingin kehormatan negara tegak karena hukum jadi panglima.

Kalau karena itu saya harus mati, biarlah. Setidaknya saya tahu arti sebuah kebenaran itu memang teramat mahal yang harus diperjuangkan dengan penderitaan sampai batas tak tertanggungkan. ”

Namun sebelum matanya di tutup, Panglima Miiter tingkat kota datang kelokasi eksekusi mati bersama hakim. Hakim itu memerintahkan agar proses eksekusi mati dihentikan. Wanita itu harus di bebaskan. Keesokannya Hakim bersama Militer menggiring elite partai lokal bersama pengembang ke kantor polisi. Proses pengadilan berlangsung cepat. .semua mereka di hukum mati.

Yang menarik kata kata hakim ” Kalau negara tidak bisa membela orang baik maka kebenaran tenggelam. Berikutnya yang terjadi adalah kehancuran bukan hanya partai komunis tapi juga negara china. ”

Baca juga: 100 Kata-Kata Mutiara Indah Tentang Kehidupan yg Bermakna

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Akhlak Mulia