Bersiaplah Meraih Mimpimu !

Beberapa mahasiswa yang ikut training saya minggu lalu menyatakan ingin jadi pengusaha. Ingin memulai bisnis. Bisnis apa? Macam-macam jawabnya. Ada yang mau buka usaha konveksi, ada juga yang mau bikin butik. Ada yang mau jadi peternak, bikin perusahaan IT, berdagang sayur, atau membuka nursery school.

Bersiaplah Meraih Mimpimu

Pertama saya ingatkan, jangan sampai berniat jadi pengusaha untuk menghindari berbagai konsekuensi dunia kerja (sebagai karyawan). Misalnya, tidak yakin bisa berkompetisi untuk masuk pasar kerja.

Saya sampaikan bahwa seorang calon pengusaha justru dituntut untuk punya kompetensi lebih banyak dibanding calon karyawan. Demikian pula, jangan mengira jadi pengusaha itu akan lebih mudah. Ada begitu banyak kesulitan yang harus dilewati.

Kemudian saya cek, sejauh mana mereka paham dunia bisnis yang akan mereka tekuni. Ternyata semua masih gelap. Besar kemungkinan keinginan untuk jadi pengusaha itu baru tercetus dalam training itu, saat mereka bingung menjawab pertanyaan saya soal mau kerja apa.

Baca juga: Dari Mimpi Menjadi Kebiasaan

Saya beri sedikit gambaran soal beberapa jenis bisnis, gambaran awal saja. Saya gambarkan hal-hal apa yang harus mereka pelajari. Beberapa orang sepertinya mulai ragu dengan niatnya sendiri.

Begitulah. Dalam pelatihan kemarin itu saya menemukan anak-anak yang sepertinya belum pernah berpikir serius soal masa depan mereka. Mahasiswa seperti ini sangat banyak. Hampir di setiap kampus saya temukan mereka dalam jumlah banyak. Mereka kuliah, tapi tidak paham hubungan kuliah mereka dengan dunia kerja.

Prinsipnya, jalani saja dulu. Situasi seperti ini berlangsung sampai mereka lulus kuliah. Tiba saatnya mereka harus cari kerja, mereka kebingungan, tak tahu dunia mana yang akan mereka masuki. Ketika mau memasuki suatu lapangan kerja, mereka baru sadar bahwa mereka tidak punya kompetensi yang cukup.

Ada juga yang punya mimpi, tapi masih di awang-awang. Salah satu peserta training saya itu adalah mahasiswi pesikologi. Ia ingin menjadi penulis buku self help. Ia merasa frustrasi karena belum bisa menuangkan gagasannya dengan baik.

Saya terangkan pada dia bahwa hal terpenting dalam penulisan itu adalah pada kandungan tulisan. Saya katakan,”Kamu frustrasi karena kamu belum punya content. Pengetahuan dan pengalaman kamu masih nol. Penulis-penulis self help umumnya adalah orang-orang yang sudah malang melintang di dunia profesional. Dengan bekal pengalaman itu mereka menulis buku.”

Sambil meneteskan air mata ia sepertinya mulai sadar. Ia kemudian memutuskan untuk menekuni dunia HR. “Saya akan menempuh karir di dunia HR,” katanya.

Training kemarin itu belum selesai. Saya bikin group WA dengan peserta, untuk melanjutkan komunikasi. Saya akan lakukan coaching, bimbingan rutin soal mempertajam visi mereka dalam menyiapkan diri menuju mimpi. Saya akan dampingi mereka menyusun rencana belajar setiap semester. Saya akan dampingi mereka secara remote, dalam aktivitas harian.

Saya ingin melihat mereka mempersiapkan masa depan secara terencana.

sumber: catatan Kang Hasan di Facebook

Bersiaplah Meraih Mimpimu !

Bersiaplah Meraih Mimpimu !

Baca juga: Dayus, Tipe Lelaki yg Tidak Bertanggung Jawab

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Akhlak Mulia