Beragama & Cepat Tersinggung

Sewaktu kecil banyak teman di sekitar saya tinggal memengolok-olok agama dimana orangtua saya yakini dan diturunkan pada saya.

Beragama & Cepat Tersinggung

“masa Tuhan kok banyak?” “masa ada Tuhan kok penghancur?”

Tentu pada saat itu saya nggondok, tapi karena minoritas dan tidak mempunyai pengetahuan agama ya saya menyimpan amarah saya.

Sekolah di sekolah Kristen membuat saya mempercayai Jesus dan berusaha mengikuti ajarannya. Di sekitar rumah masih banyak anak-anak yang mengolok-ngolok, namun saya tenang saja. saya tidak merasa terganggu karena saya bukan bagian dari yang ‘direndahkan’ tersebut.

Karena saya tidak bereaksi, mereka mencari tahu dan ketika tahu bahwa saya sudah meyakini Yesus, mereka mengganti olokan dengan yang lain yang menyudutkan sesuatu yang saya percayai, dan itu membuat saya mendendam dan membencinya.

Baca juga: Berdamai dengan yang berbeda dengan kita

Lama kejadian ini sudah tidak saya ingat, melalui sebuah waktu dalam perenungan dalam, hadirlah memori yang saya ceritakan diatas tersebut.

“Kalau sebelumnya saya tidak mengerti apa-apa, saya tidak sakit, tidak marah mengapa setelah saya memutuskan untuk menganut sebuaah kepercayaan saya menjadi marah dan membenci?”

“Semua agama atau aliran. spiritual mengajarkan tentang pencerahan atau Ketuhanan yang selalu digambarkan dengan cinta, penyayang dan welas asih, saya berasumsi bahwa dengan belajar semua itu saya akan menjadi lebih sayang, lebih cinta dan lebih welas asih.

namun mengapa saya menjadi lebih sensitif, lebih cepat marah dan membenci?”

Pertanyaan-pertanyaan diatas adalah sedikit pertanyaan-pertanyan besar dalam hidup saya dan semua ini mendorong saya untuk mencari dan menggali darimana datangnya ketersinggungan dan kebencian saya?

sempat saya berpikir, bila mempunyai agama tidak membuat saya menjadi lebih sejuk namun sebaliknya, maka lebih baik saya tidak memilikinya.

Namun masa kebimbangan saya telah lewat, saat ini saya sangat berterimakasih pada semua teman kecil saya yang membuat saya gelisah dan mencari jawaban.

Baca juga: Nasehat untuk Selalu Bersyukur agar Rezeki semakin Luas

saya bersyukur kekacauan-kekacauan yang terjadi di awal kehidupan menuntun saya untuk belajar kemana saja dan dengan siapa saja, saya tidak membatasi apakah yang memberi pelajaran adalah seorang atheis atau beragama.
Manusia selalu lebih penting daripada agamanya, karena agama tercipta untuk manusia dan bukan manusia untuk agama.

Bagi saya setiap orang adalah Guru, setiap tempat adalah sekolah dan setiap jam adalah waktu belajar.

saya meyakini bahwa dengan bersikap terbuka dan belajar banyak hal tentang sesuatu yang diluar, membuat manusia menjadi lebih bijak. dan bila mau menyempatkan diri belajar kedalam, manusia akan menemukan sebuah ilusi besar yang bernama “ego”.

Batu adalah batu, bagi sebagian orang batu adalah rintangan untuk maju, makanya ada yang ingin menyingkirkan batu tersebut, bagi yang lain adalah pijakan agar kita bisa melihat lebih tinggi.

kita semua selalu punya pilihan dalam sebuah peristiwa, apakah kita akan menjadi fasilitas pelindung atau pemberdaya bagi hati kita.

kita bisa dengan berbagai cara mengambil langkah melindungi hati dengan mengatur lingkungan luar agar tidak terluka atau ke dalam, berlatih memberdayakan hati agar menjadi kuat dan eling sehingga apapun yang terjadi tidak akan mampu membuat diri Anda membenci ciptaanNYA.

Pilihan ada di Anda

sumber: catatan Gobind Vashdev di Facebook

Beragama & Cepat Tersinggung

Beragama & Cepat Tersinggung

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Spiritualitas