Dayus, Tipe Lelaki yg Tidak Bertanggung Jawab

Dayus artinya hina budi pekertinya. Di kampung saya kata ini lebih sering dilekatkan pada laki-laki. Laki-laki pengecut, tidak punya tanggung jawab dan kehormatan. Macam apa itu? 

Dayus, Tipe Lelaki yg Tidak Bertanggung Jawab

Salah satu bentuknya adalah yang tidak menafkahi istri dan anak-anak. Tidak bekerja, tidak bertanggung jawab, tidak punya malu.

Dalam berbagai interaksi saya berkenalan dengan banyak orang. Sebagian darinya adalah wanita-wanita yang akhirnya memilih hidup menjanda karena suaminya tidak bertanggung jawab. Istrinya kerja, lakinya tak jelas apa kegiatannya. Ada yang mengaku berbisnis, tapi tak jelas wujudnya. Alih-alih menambah penghasilan, ia jadi penggerogot nafkah yang dikumpulkan istrinya.

Laki-laki semacam ini memang sepantasnya ditinggalkan. Tapi perempuan sering tak mudah membuat keputusan itu. Salah satu sebab utamanya adalah status janda yang serinh dipandang rendah itu. Ada banyak perempuan yang harus menahan derita bertahun-tahun, tak berani memutuskan untuk bercerai.

Kenapa ada orang seperti itu?

  • Pertama, tidak punya malu, atau sudah bebal. Tadinya malu, tapi sekarang cuek saja. Atau, dia punya malu, tapi tidak cukup kuat untuk mendorongnya menjadi lebih bertanggung jawab.
  • Kedua, soal manajemen diri. Ada orang yang memang bahkan tidak bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Ia tak punya keahlian maupun keterampilan, karena tak pernah membangunnya. Ia mau yang serba instan. Mimpi dalam angannya, ia harap bisa menjadi nyata dengan mudah, oleh berbagai kebetulan.
  • Ketiga, rendah diri. Istrinya bekerja, lebih dari dia. Alih-alih itu memberinya semangat untuk berkembang lagi, ia malah terpuruk jadi rendah diri, dan salah tingkah. Ia terjebak mencari jalan-jalan instant, agar segera bisa menyalip istrinya.

Dayus Religius

Masih soal dayus, laki-laki yang tidak mau kerja. Ada dayus yang sangat relijius. Ibadahnya kencang. Setiap salat fardhu selalu di mesjid. Datang sebelum masuk waktu, pulang lama setelah salat usai. Malam pun ia habiskan untuk ibadah.

Sayangnya, kerja tidak. Cari nafkah, tidak. Atau, ala kadarnya. Prinsipnya, kerja jangan sampai ganggu ibadah. Bagaimana anak istrinya? Hidup seadanya. Istrinya yang pontang panting. Tak jarang sampai terlilit hutang. Lebih parah lagi, ada pula yang sampai berani poligami.

Orang begini percaya pada keajaiban dari langit. Setiap kebetulan yang menguntungkan, ia anggap sebagai jawaban dari Tuhan atas doanya. Ia percaya kebetulan itu akan datang lagi. Ia tidak peduli anak istrinya sudah morat marit.

Solusi?

Adakah solusinya? Sulit. Orang seperti ini harus diinstall ulang. Perlu cuci otsk, kemudian dibimbing dalam bentuk coaching. Tapi sejak awal dia harus punya komitmen dulu.

Yang mungkin diperbaiki adalah orang dayus pada stadium awal. Istri harus lapang dada, mengulurkan tangan, mengalah, untuk membantu mengangkat dia.

Dalam banyak kasus yang saya lihat, jarang ada yang mau berubah. Kebanyakan istrinya mengalah dengan kesabaran tingkat super, atau akhirnya bercerai.

Akan lebih baik kalau para wanita tajam dalam menyeleksi calon suami. Jangan cari yang ganteng atau romantis saja. Kritislah dalam menilai tanggung jawabnya.

sumber: catatan Kang Hasan di Facebook

Tipe Lelaki yg Tidak Bertanggung Jawab

Tipe Lelaki yg Tidak Bertanggung Jawab

Baca juga: Renungan tentang Hati Wanita yg Lembut

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Akhlak Mulia