Pemimpin dan Otoritas

Pemimpin dan Otoritas – Di tempat kerja saya dulu, saat saya memimpin sebagai direktur, suatu ketika ada keributan di bagian produksi. Ada konflik yang agak berkepanjangan antara supervisor pelaksana produksi dengan foreman dan operator soal jadwal produksi. Manager yang orang Jepang tidak bisa menyelesaikan. Maka saya panggil mereka. 

Pemimpin dan Otoritas

Para foreman dan operator mengeluh, jadwal produksi tidak sesuai dengan aspirasi mereka. Mereka kemudian menuduh management tidak demokratis bla bla bla.

Saya bawakan kepada mereka buku peraturan perusahaan. “Kalian sepertinya salah memahami posisi kalian di perusahaan ini. Ini bukan ruang demokrasi. Ini ruang kerja. Kalian bertugas melaksanakan apa yang sudah diperintahkan management. Jadwal kerja itu ditetapkan berdasarkan kebutuhan. Itu keputusan management. Kerjakan. Titik. Selama tidak ada regulasi pemerintah seperti peraturan terkait kerja lembur atau pembayaran gaji yang dilanggar maka kalian wajib patuh. Kalau merasa tidak cocok, kalin punya pilihan lain, yaitu keluar dari perusahaan ini.”

Masih ada yang ngeyel. “Kenapa jadwal kerjanya harus begini?”

“Karena itu satu-satunya jalan bagi kita untuk bisa mengirim produk sesuai kebutuhan custumer. Detilnya tidak bisa kami jelaskan satu per satu. Itu akan menghabiskan waktu, dan belum tentu juga kalian paham. Jadi cukup kerjakan saja apa yang sudah diperintahkan.”

Pertemuan bubar, tak ada lagi keluhan.

Salah satu aspek penting dalam kepemimpinan adalah pemahaman atas otoritas yang kita miliki serta kemauan/keberanian untuk menggunakannya bila diperlukan. Banyak pemimpin yang tak paham soal otoritasnya. Maka ia jadi terombang ambing dalam ketidakpastian. Ada pula yang paham, tapi tidak berani menggunakannya.

Tentu saja pemimpin yang baik tidak melulu menggunakan pendekatan otoritas. Bagi saya pendekatan ini hanya dipakai bila keadaan kritis saja. Selebihnya lebih baik bila kita gunakan pendekatan dialog dan persuasi.

Penggunaan otoritas sering memicu ketidakpuasan. Tak masalah. Kritik terhadap pemimpin selalu ada, apapun tindakan yang dia ambil. Pemimpin yang tegas akan teguh pada pendirian, bila dia yakin bahwa dia benar. Pada saat yang sama ia harus siap mengoreksi bila ia terbukti salah. Ia harus bertanggung jawab atas keputusan yang sudah ia buat. Bertanggung jawab bisa bermakna ia sanggup mengambil langkah korektif atas kesalahannya, atau mengundurkan diri.

Pemimpin yang tidak berani mengambil tindakan berbasis otoritas di saat perlu dengan dalih lebih mendepankan dialog adalah pemimpin kelas ayam sayur.

sumber: catatan Kang Hasan di Facebook

Pemimpin dan Otoritas

Pemimpin dan Otoritas

Baca juga: Persahabatan sebuah Investasi yg tidak berwujud…

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Akhlak Mulia