Berdamai dengan yang berbeda dengan kita

Dulu sekali saya lupa tepatnya. Saya bertemu dengan tokoh politik yang juga pimpinan Partai berbasis massa Islam. Kebetulan dia adalah mentor saya. ” Perlakukan orang sesuai dengan karakternya. Dengan begitu kamu bisa di terima di mana saja. 

Karena manusia ini diciptakan Tuhan sudah dari sononya berbeda. Kepala boleh sama hitam tapi pendapat dan laku berbeda. Hidup ini bukan barisan tentara yang harus tertip tapi sekumpulan orang joget dengan gaya berbeda namun musik sama. Hidup bukan hitam putih tapi penuh warna. ” Demikian kira kira nasehatnya kepada saya, yang mungkin tidak mudah saya pahami sebagai orang muda.

Namun berlalunya waktu , nasehat itu saya dapat pahami..

Saya berteman dengan orang korea, sikapnya yang tempramental Bukan hanya kata katanya yang kasar tapi juga bahasa tubuhnya pun terkesan menakutkan. Tapi saya tidak melihat bahasa tubuhnya dan tidak peduli dengan kata katanya yang kasar. Saya hanya focus dengan apa yang dia katakan.

Baca juga: Menghadapi Tantangan dengan Santai

Kalau kata katanya banyak yang tak patut di dengar maka saya berusaha memahami kata katanya secara rasional. Kalaupun secara rasional tak bisa saya temukan pembenaran maka hati sayalah yang menyikapinya. Mungkin dia lelah dan merasa kalah , makanya dia butuh orang meminjamkan kuping mendengarnya. Gitu aja.

Saya berteman dengan orang jawa. Susah sekali tahu apa apakah dia kecewa dengan saya atau dia menyukai sikap saya. Karena mereka tidak bisa mengatakan “tidak” dengan mudah. Senyuman dan kehati hatian mereka mengungkapkan rasio dan suasana hatinya membuat saya lebih menggunakan hati menyikapi persahabatan dengannya.

Di china saya bergaul dengan orang yang merasa menghormati wanita bila wanita membayar makan malamnya. Tapi di Indonesia, wanita merasa tersanjung bila makan malam yang bayar pria. Di jepang, wanita harus mendahulukan pria, man first. Tapi di Indonesia dan Barat, selalu lady first.

Di sosmed dengan follower puluhan ribu, saya membuktikan itu semua bahwa betapa dengan satu irama atau satu postingan saya, comment datang berbeda. Ada yang memuji saya karena sependapat, ada yang menghujat saya karena berbeda. Semua saya sikapi dengan biasa saja. Tak perlu senang dengan pujian dan tak perlu kecil hati karena cacian.

Karena semua orang punya cara berbeda mengungkap pikiran dan suasana hatinya. Yang memuji belum tentu baik untuk kita, yang membenci belum tentu buruk untuk kita. Semua tergantung kita menyikapinya. Semua kembali kepada diri kita sendiri. Apakah kita bisa belajar dari perbedaan dan berdamai dengan itu. Dah gitu aja.

Pahamkan sayang?

Baca juga: Hidup ini memang tidak ramah, tapi tetaplah mendekat pada Tuhan

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Akhlak Mulia