Hidup bukanlah seperti yg kita mau karena itu Ikhlas adalah jawabannya

Suatu waktu saya sedang makan malam dengan teman. Sekonyong konyong dia melihat kearah table lain. Dia berdiri segera menghampir table tersebut. Nampak oleh saya dia merangkul perempuan itu, dan berbicara sebentar, Kemudian kembali ke table saya. ” Tadi itu mantan istri saya. Dia lagi kencan dengan seorang pria. Semoga dia beruntung” Katanya. 

Saya sempat terkejut. Bagaimana tidak ? Mereka tidak nampak sedang bermusuhan. Tetap akrab. ‘ Kami hanya berbeda pendapat dan sulit dipersatukan. Akhirnya kami sepakat untuk tidak sepakat. ” Katanya sambil tersenyum. Apakah persahabatan terputus ? Tidak. Mereka tetap bersahabat, dan saling mendoakan, tentu saling mensupport.

baca juga: Renungan Tentang Dendam

Suatu waktu saya sedang di cafe. Teman saya orang australia menerima telp. Saya perhatikan dia bicara dengan tenang. Setelah menutup telp ” Tadi istri saya telp. Bertanya soal kesehatan saya dan apa sekarang yang sedang saya lakukan. Saya katakan bahwa saya sedang di cafe, ditemanin seorang wanita, dan minum tequila. ” Katanya.

Saya terkejut. Bagaimana dia bisa bersikap jujur tanpa beban apapun?. Dengan santai dia jawab ” kami punya commitment dan karena itu kami saling percaya. Selalu ada alasan setiap perbuatan dan satu sama lain berusaha saling memahami tanpa harus berdusta. Cinta itu harus dibangun diatas kejujuran dan saling pengertian.”

Hari jumat lalu teman saya dari NY telp menanyakan apakah saya sudah tahu bahwa Donald Trump terpilih sebagai presiden dan minta pendapat saya. Dengan tegas saya katakan bahwa saya tidak senang Trump jadi presiden. Karena saya tahu teman saya ini anti Trump.

Tapi dengan tertawa dia berkata.” Kadang kita terlalu hebat dengan pilihan dan keyakinan kita tapi kita lupa bahwa Tuhan berkehendak kadang tidak sama seperti kita mau. Trump terpilih dan itulah takdir bangsa Amerika. Tugas kami harus menerima itu sebagai keyakinan kami orang beragama bahwa tidak ada satupun yang terjadi tanpa campur tangan Tuhan.”

Baca juga: Niatkanlah semua karena Tuhan dan semua akan baik-baik saja!

Demikian pengalaman saya dalam pergaulan di luar negeri. Bagi mereka hubungan kerja, bisnis, perkawinan, pilihan politik , hanyalah hal formal tapi hakikatnya adalah hati. Yang formal bisa saja harus putus karena berbagai alasan perbedaan. Namun hati tetap tidak berubah. Memaklumi bahwa secara formal orang punya standar sendiri tapi secara hati, semua punya standar sama, yaitu ikhlas.

Ikhlas adalah memaklumi apapun yang terjadi karena semua tidak datang dengan sendirinya. Semua ada tangan Tuhan yang bekerja. Percaya kepada Tuhan bukan hanya euforia atas kesuksesan bisnis, karir, perkawinan, politik , tapi juga berlapang dada bila itu semua hilang atau gagal. Tanpa harus saling bermusuhan dan membenci.

Hidup bukanlah seperti yang kita mau. Kita ingin seharusnya Prabowo jadi presiden. Tapi Allah kasih kita Jokowi. Kita ingin ustad jadi Gubernur, Tuhan kasih, tapi akhirnya dia masuk bui karena masalah sepele. Kita inginkan Gubernur DKI orang islam, bisa saja Tuhan berkehendak yang terpilih non muslim.

Begitu banyak keinginan kita , begitu banyak harapan kita, namun yang terjadi terjadilah. Di sini di uji keimanan kita. Apakah kita larut dalam amarah dan sesal mengapa itu terjadi tidak sesuai keinginan? Ataukah kita menerima dengan senyum, sambil terus bergandengan tangan melanjutkan hidup. Ikhlas itu adalah sikap dan perbuatan, bukan retorika…

Pahamkan sayang?

sabar-dan-ikhlas

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Akhlak Mulia