Ketika Anak-anak menjadi Korban Kekerasan atas nama Agama

Mari kita membayangkan , kalau putra-putri kecil anda, atau cucu anda sedang lucunya melangkah ceria ke luar menuju tempat parkir kendaraan. Seketika tanpa pernah di duga, bom meledak. Dia menjerit, badannya terbakar menghitam. Orang panik, karena orang tuanya juga terkena ledakan bom. 

Ketika Anak-anak menjadi Korban Kekerasan atas nama Agama

Mereka yang jadi korban itu bukan politisi, bukan militer, bukan preman. Mereka rakyat biasa yang ingin hidup damai dengan cara mendekat kepada Tuhan yang mereka yakini. Tapi mengapa mereka harus jadi korban untuk sesuatu yang sulit di jelaskan oleh agama atau idiologi apapun. Apalagi dalam situasi damai saat ini.

Namun bagi Jo bin Muhammad Aceng Kurnia ( 32 tahun) sang pelaku yang mengakibatkan ledakan bom di halaman gereja di Samarinda itu punya alasan tersendiri sebagai anggota Jemaah Ansyarut Tauhid (JAT). Berkali kali bom di ledakan, berkali kita bertanya apa sebetulnya yang mereka perjuangkan?

sebetulnya ledakan Bom itu adalah puncak gunung es. Itu bisa terjadi karena adanya proses yang sehingga membentuk mindset orang jadi radikal, seperti aksi ceramah agitasi yang menebarkan permusuhan, penyebaran berita hoax yang meresahkan masyarakat lewat brosur atau media sosial dan lain lain.

Seorang teman di Malaysia mengatakan kepada saya bahwa Fundamentalisme agama lebih berbahaya sebab ia tak berbentuk, dan bergerak ke banyak arah. Fundamentalisme memperoleh pengikut di tempat yang paling tak terduga. Ia menyatakan diri dalam bentuk yang acak dan sangat berbahaya.

Kalau proses Radikalisasi tidak di Anggap teror, maka kita semua harus siap kapan saja bom bisa meledak di sekitar kita. Seharusnya kita meniru Malaysia yang menerapkan UU Anti teror yang memungkinkan aparat keamanan menahan individu yang dicurigai kuat tanpa melalui proses persidangan dan tanpa batas waktu.

Tapi Revisi UU Anti Teror kelihatannya sulit memasukan pasal seperti UU anti teror Malaysia. Karena DPR dengan alasan HAM dan kebebasan menyampaikan pendapat, ceramah agitasi dan bahkan mem bully presiden di media sosial tidak dianggap aksi yang bisa menimbulkan terorisme.

Maka dengan demikian , di negeri ini kita memang terancam setiap waktu dan dimana saja. Tentu kita tidak bisa menjawab pertanyaan si kecil yang menangis kesakitan akibat tubuhnya kena luka bakar dari bom melotov ” Mengapa Ayah. Apa salah kita ?

Ketika Anak-anak menjadi Korban Kekerasan atas nama Agamaa

Salah seorang anak korban bom di gereja di Samarinda

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Akhlak Mulia