Renungan Tentang Kekuasaan

Ketika peristiwa Tianemen Square di China, pemerintah China dengan tanpa ragu membubarkan demontrasi mahasiswa pro demokrasi. Ketika itu PM Singapore Lee Kuan Yew dengan nada prihatin bertanya kepada Li Peng, PM China ” mengapa sampai ada pembunuhan untuk menghadapi demontran? Bukankah itu pelanggaran HAM?”

Renungan Tentang Kekuasaan

Renungan Tentang Kekuasaan

Renungan Tentang Kekuasaan

Li Peng menjawab, membiarkan kerusuhan meluas akan berdampak lebih buruk terhadap HAM. Mengapa ? Karena momentum pertumbuhan ekonomi China akan terganggu, dan ini bisa berdampak kepada ratusan juta rakyat terkapar karena negara kehilangan trust di hadapan investor asing. Apakah salah saya mengambil keputusan untuk menyelamatkan ratusan juta rakyat dan mengorbankan ribuan rakyat yang membangkang?

Ketika terjadi pertentangan keras antara keluarga Bani Abbas yang berkuasa dengan Bani Al bin Abi Thalip, semua orang harus membenci keluarga Ali Bin Abi Thalip demi memuaskan sang penguasa. Tapi Imam Syafii yang sedang berada di Yaman sebagai guru agama, dengan tegas mengatakan beliau mencintai keluarga Ali Bin Abi Thalip sebagaimana beliau mencintai Rasul. Karena sikapnya itu beliau difitnah sebagai musuh negara. Beliau ditangkap. Dari Yaman beliau dibawa ke Baghdad dalam keadaan kaki dan tangannya dirantai. Murid pengikutinya sebanyak 9 orang dihukum pancung.

Baca juga: Renungan Tentang Dendam

Ketika Khalifah Al Ma’mun mengadakan doktrinisasi kepada para ulama dengan mengatakan bahwa AL Quran itu adalah makhluk dan harus diterima ini sebagai paham. Sama seperti sekarang penguasa yang memaksakan paham secular untuk menggantikan paham agama.

Tapi Imam Hambali tidak mau tunduk kepada doktrin itu. Bagi beliau Al Quran adalah kalamullah, dengan tidak membawa manusia membicarakan apakah dia makhluk atau qadim. Filsafat jangan dicampur adukan dengan aqidah agama. Akibatnya beliau dimasukan kedalam penjara dengan tuduhan tidak taat pada doktrin khalifah. Di dalam penjara beliu dipaksa untuk tunduk. Disiksa dengan cemeti hingga mengalir darah disetiap tubuhnya.

Ketika Abu Bakar Bashir (ABB) di tuduh di balik aksi teror, di pengadilan tidak satupun bukti dia terlibat kecuali di kait kaitkan oleh jaksa penuntut. Andaikan ABB mau merubah sikapnya terhadap keyakinannya beragama bahwa tegaknya syariah Islam adalah harga mati , tentu dia bisa bebas. Tapi dalam pembelaan pribadinya di hadapan majelis hakim dengan tegas dia mengatakan tak akan merubah keyakinannya. Diapun di penjara seumur hidup.

Saya bisa membaca suasana hati Li Peng dan sederet penguasa China ketika itu. Saya juga bisa memaklmumi mengapa Khalifah harus menghukum Imam Syafii, dan kemudian Imam Hambali. Saya bisa memahami mengapa rezim Reformasi harus menjadikan ABB sebagai pesakitan di hadapan pengadilan dan terpidana seumur hidup. Saya bisa mengerti bahwa harus melakukan pembunuhan massal antek PKI dan memenjarakan mereka.

Renungan Tentang Kekuasaan

Para penguasa, entah itu sekular atau agama, mereka harus mengambil keputusan demi integritas negara dan kekuasaan dengan agenda mereka masing masing. Karena ketika mereka lemah di hadapan segelintir orang, maka akan lebih banyak korban jatuh, bahkan lebih besar dari segelintir orang itu. Negara bubar.

Kita akan marah dengan kekuasaan tapi kita harus sadar bahwa dunia ini memang sudah cacat dari awalnya, Andaikan Adam tidak melakukan dosanya yang pertama kali memakan buah qalbi, tidak akan adakehidupan dunia seperti sekarang ini.

Memaksakan kehendak agar semua nampak sempurna adalah sikap yang lupa akan fitrah hidup bahwa hidup itu tidak sempurna. Dan kekuasaan harus tegak dengan ketidak sempurnaan itu tanpa harus memuaskan semua orang. Pada akhirnya setiap pemimpin akan di adili oleh Tuhan, bukan karena perbuatannya tapi karena niatnya.

Saya yakin Presiden Jokowi bersama rezim yang kini berkuasa, sadar bahwa mereka harus menjaga keutuhan bangsa dari segala rongrongan manapun dan negara tidak pernah bisa dikalahkah oleh segelintir oang walau mengatasnamakan Agama yang di yakininya

paham kan sayang?

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Akhlak Mulia