Tips Menghadapi Perilaku Tantrum anak usia dini

bagaimana biasanya sikap bunda dan ayah jika si kecil usia 2-3 tahun menunjukkan perilaku memberontak, membantah, ngamuk atau berguling-guling ketika kemauannya tidak dipenuhi? inilah perilaku yg disebut perilaku tantrum (temper tantrum)

apakah bunda membiarkannya sampai ia diam sendiri? menuruti saja apa maunya? marah? panik? mencubit agar dia patuh? mengancam? atau dibujuk dengan menjanjikan sesuatu yg belum tentu bunda penuhi?

setiap orang tua punya gaya tersendiri dalan menghadapi perilaku tantrum anak yg tidak dikehendaki. namun yg perlu dipertanyakan adalah seberapa efektif sikap bunda dan ayah bisa membentuk atau mengubah perilaku si kecil sesuai yg diharapkan

amat sering orang tua kewalahan, panik, bingung, kecewa atau malu dengan perilaku tantrum anaknya ini. apa yg seharusnya bisa dilakukan oleh bunda dan ayah?

  1. pahami dulu
  2. tetap tenang
  3. jangan menyerah
  4. tegas namun jangan kasar
  5. tantrum di tempat umum
  6. berikan pujian

Tips Menghadapi Perilaku Tantrum anak usia dini

baca juga: cara mengatasi anak cengeng

Tips Menghadapi Perilaku Tantrum anak usia dini

pertama: pahami dulu perilaku tantrum
temper tantrum mulai terlihat pada anak usia 18-24 bulan dan berlanjut hingga awal masa 5 tahun. tantrum membantu anak bunda menghadapi perilaku frustrasinya dan tantrum juga menunjukkan tingkat kemarahan marahnya anak

tantrum merupakan kesempatan bagi orang tua untuk membanu perkembangan emosi anaknya. orang tua perlu yakin bahwa perilaku anak bisa diubah dan dibentuk, asalkan orangtuanya mau mengendalikan perilaku mereka sendiri terlebih dulu

kedua: strategi ketika anak mengalami gejala tantrum adalah dengan tetap tenang, jangan bereaksi apapun dan tetaplah berada di dekatnya agar ia merasa aman

ketika bunda dan ayah tetap tenang di tengah luapan emosi marah dan frustrasi anak, orang tua sudah mengajarkan pada anak bahwa perasaan² marah itu adalah biasa dan bisa dikendalikan. sebaliknya jika orang tua terlanjur marah-marah, tanpa sadar orang tua telah mengajarkan pada  si kecil bagaimana meluapkan emosi dalam menghadapi situasi yg tidak dikehendaki

setiap anak secara genetik sudah punya dasar emosi yg disebut temperamen. perkembangan emosi anak ditentukan oleh interaksi sosial yg dibangun dengan orang tuanya dan orang-orang lain di lingkungan anak tinggal dan dibesarkan

ketiga: jangan menyerah pada perilaku tantrum anak
orang tua jangan menyerah dengan temper tantrum anak dan lalu membujuk atau merayu (misalnya dengan memberikan camilan). ini hanyalah solusi jangka pendek. pada jangka panjang, anak akan belajar jika tantrum dan rengekannya berhasil. niscaya ia akan memberikan lebih banyak tantrum pada bunda dan ayah

keempat: tegas namun jangan kasar
jika orang tua atau pendidik bersikap kasar dan marah-marah saat anak menunjukkan perilaku tantrum, ia akan belajar membalas kemarahan dengan kemarahan. namun ketika ia mulai menjangkau benda-benda dan melemparnya, ambil barang tsb dan katakan dengan tegas bahwa perbuatan itu salah

tantrum anak juga bisa dimanifestasikan dengan menggigit, melempar-lempar makanan, memukul, dll. tetap tenang, jangan marah dan kasar namun bersikaplah tegas. jika anak mulai tantrum dan misalnya melempar-lempar makanannya, akhiri sesi makan dan katakan padanya perbuatan itu tidak baik dan makan akan dilanjutkan setelah ia tidak lagi marah-marah

kelima: tantrum di tempat umum
jika anak mengalami tantrum di tempat umum, biarkan saja kecuali jika sudah terlalu mengganggu orang-orang di sekitarnya. bawalah ia tempat yg lebih tenang dan tunggu hingga tantrumnya berlalu

keenam: berikan pujian
ketika tantrumnya selesai, berikanlah pujian pada anak. anak akan belajar bahwa mengakhiri kemarahan menuai rasa senang dari lingkungan sekitarnya. pujian ini adalah pondasi yg baik untuk melahirkan perilaku yg baik pula di kemudian hari. bunda dan ayah perlu menunjukkan sikap senang ketika ia menunjuukkan perilaku baik. tataplah mata si kecil, gunakan nada suara yg hangat, bersahabat serta penuh welas asih

5 artikel terakhir di Blog Mutiara Bijaksana

Yuuk langganan Blog Mutiara Bijaksana

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Mari Berkomentar...


Categories: Parenting